GUNUNGKIDUL - Aktivitas penggilingan batu kapur di wilayah Kalurahan Pucanganom, Kapanewon Rongkop, Gunungkidul dikeluhkan petani. Limbah yang terbawa aliran air hujan disebut mencemari lahan pertanian warga hingga berdampak pada menurunnya hasil panen.
Salah satu petani Sadimo mengaku, lahan garapannya berada tepat di bawah Jalan Raya Semanu-Pracimantoro. Lansung terdampak limpasan air dari area penggilingan batu kapur. Mengakibatkan hampir separo tanaman di lahan seluas 3.000 meter persegi terendam limbah. Baik saat musim tanam padi maupun jagung dan kacang tanah.
Baca Juga: DPUPKP Sleman Akan Bangun Tiga Jembatan Tahun Ini, Pastikan Konstruksi Kuat Selama 50 Tahun
“Kalau hujan itu air dari atas mengalir ke lahan. Itu bawa endapan batu kapur, jadi tanahnya keras dan tanaman susah tumbuh besar. Panennya jadi sedikit,” ujarnya saat ditemui di lahan Selasa (14/4).
Ia menambahkan, endapan limbah akan tampak jelas saat musim kemarau. Berupa kerak berwarna gelap yang tertinggal di permukaan tanah. Kondisi tersebut membuat lahan pertanian kehilangan kesuburan.
Baca Juga: DPUPKP Sleman akan Bangun Tiga Jembatan, Pastikan Konstruksi Kuat Selama 50 Tahun
Menurutnya, kondisi tersebut sudah berlangsung cukup lama. Namun dia tidak ingat pasti kapan pencemaran mulai terjadi. Hanya saja dia memastikan, pabrik penggilingan batu kapur di sekitar lokasi bahkan telah beroperasi sejak 20 tahun lalu.
Kondisi ini diperparah dengan adanya aktivitas tambang baru di sekitar lokasi. “Sekarang ada tambang lagi sekitar 100 meter dari sini. Kalau hujan, limbahnya pasti ke bawah semua. Ini tambah parah,” keluhnya.
Sadimo mengaku, bersama warga lain pernah menyampaikan permintaan kepada pihak pengelola agar dibuatkan saluran pembuangan limbah. “Tapi sampai sekarang belum ada realisasi,” ucapnya.
Keluhan serupa juga disampaikan warga lain dari Kalurahan Gombang, Kapanewon Ponjong yang enggan disebutkan namanya. Ia mengaku memiliki lahan di sekitar area tersebut. Menurutnya, dirinya selalu kesulitan mendapatkan hasil panen saat musim hujan karena lahan pertaniannya terpapar limbah.
“Harusnya musim hujan itu bisa tanam dan panen. Tapi sekarang justru tidak bisa, karena airnya bawa lumpur dari pabrik kapur,” keluhnya.
Ia juga menyoroti minimnya dampak ekonomi dari keberadaan pabrik terhadap masyarakat sekitar. Menurutnya, manfaat yang dirasakan warga tidak sebanding dengan kerusakan lahan pertanian yang terjadi. Dia berharap ada perhatian dari pemerintah daerah untuk menindaklanjuti persoalan tersebut, termasuk melakukan pengawasan terhadap aktivitas industri agar tidak merugikan sektor pertanian yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.
“Kalau tidak kerja di situ ya tidak ada dampak ekonomi. Paling hanya bantuan kalau ada acara desa. Tapi lahan kami malah rusak,” tutupnya. (bas/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita