Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Petani Punk Gunungkidul Menjadi Kontrol Sosial di Dapur MBG, Berhasil Gerakkan Ratusan Pemuda Dusun untuk Garap Lahan Pertanian

Rizky Wahyu Arya Hutama • Sabtu, 11 April 2026 | 21:20 WIB
Para petani punk Gunungkidul saat menggarap lahan pertaniannya. (Dokumen Komunitas Petani Punk Gunungkidul)
Para petani punk Gunungkidul saat menggarap lahan pertaniannya. (Dokumen Komunitas Petani Punk Gunungkidul)
JOGJA - Di Kapanewon Karangmojo, Gunungkidul, ada suatu gerakan unik yang diinisiasi oleh anak punk. Nama komunitas itu adalah Petani Punk. Diinisiasi oleh Pratisna Sibag sejak tahun 2018 silam, gerakan Petani Punk ini bukan sekadar gaya-gayaan. Komunitas ini lahir dari kegelisahan melihat pematang sawah yang kian sepi dari gairah kaum muda.
 
"Kami miris. Rata-rata petani hari ini usianya sudah 50 sampai 60 tahun. Saya berpikir, 15 tahun lagi mungkin tidak ada petani lagi kalau kita tidak bergerak sekarang," ujarnya saat ditemui di Kota Jogja, Sabtu (11/4).
 
Baca Juga: BRI Super league: Borneo FC Bantai PSBS Biak, Madura United Taklukkan Persik
 
Sibag mengatakan sejak berdirinya komunitas Petani Punk itu banyak anak-anak punk yang tertarik untuk mengikuti gerakan tersebut. Ada sekitar 40-an jalanan murni yang terdaftar dalam komunitas tersebut. Mereka yang biasanya akrab dengan debu knalpot, kini diajak akrab dengan lumpur sawah.
 
Namun di Karangmojo, Sibag dan kawan-kawannya kini telah berhasil mendampingi 120 pemuda di Padukuhan Kalangan. Misi mereka sederhana, yakni meyakinkan anak-anak muda bahwa rupiah bisa dipanen dari tanah sendiri tanpa harus mengadu nasib menjadi buruh di kota besar.
 
Baca Juga: Potongan Tubuh Manusia Ditemukan di Tumpukan Sampah Bambu Kalikoteng, Diduga Lansia Gamping Sleman
 
"Itu aneh bagi saya. Daripada habis waktu di kota tapi hasilnya tidak jelas, lebih baik garap lahan di dusun. Kami buktikan kalau bertani itu bisa menghidupi," tuturnya. 
 
Tak perlu waktu lama kini perjuangan Sibag dan kawan-kawannya mulai membuahkan hasil. Kepercayaan warga mulai tumbuh. Lahan-lahan tidur seluas 800 hingga 1.500 meter persegi dihibahkan cuma-cuma untuk digarap para pemuda. Hasilnya pun menjadi mesin ekonomi mandiri bagi kegiatan karang taruna, mulai dari acara 17-an hingga perayaan tahun baru.
 
Baca Juga: Mengapa Pisang Berwarna Kuning? Simak Penjelasannya!
 
Tak hanya itu, kini, sebuah babak baru dimulai. Kelompok Petani Punk memutuskan masuk ke dalam pusaran program pemerintah, atau Makan Bergizi Gratis (MBG). 
 
Bukan tanpa alasan Kelompok Petani Punk mengambil keputusan tersebut. Sebab menurut Sibag, langkah ini diambil sebagai kontrol sosial di dalam program tersebut. 
 
"Kami ini kalau salah ya bilang salah, kalau benar ya jalan terus. Kalau besok di dapur MBG ada yang tidak beres, suara kami akan lebih kencang dari siapa pun. Karena kami ada di dalamnya," bebernya. 
 
Keputusan yang diambil oleh komunitas Petani Punk itu dapat dukungan yang positif dari Yayasan Bijana Paksi Sitengsu. Yayasan itu ingin berkolaborasi oleh Petani Punk agar para petani lokal, khususnya di Gunungkidul dapat menjadi penyuplai utama bahan pokok di dapur-dapur MBG.
 
"Ke depan akan ada lima dapur MBG yang ada di Gunungkidul, dan itu akan tepat sasaran menjadi penyuplai atau yang ikut mencari rejeki di sana benar-benar petani lokal," ucap Sekjen Yayasan Bijana Paksi Sitengsu Teddy Anggoro. (ayu)
Editor : Sevtia Eka Novarita
#petani punk #Pratisna sibag #anak punk #Kapanewon Karangmojo #Yayasan Bijana Paksi Sitengsu