Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tampungan Air PAUD Kasih Ibu Sempat Kosong dalam Sepekan, Kini Terisi Berkat Dermawan

Yusuf Bastiar • Kamis, 9 April 2026 | 21:43 WIB
Seorang dermawan mengirimkan satu tangki air bersih setelah video yang dibuat wali murid terkait kendala krisis air di SPS Kasih Ibu Gendangsari. Dokumentasi/SPS Kasih Ibu
Seorang dermawan mengirimkan satu tangki air bersih setelah video yang dibuat wali murid terkait kendala krisis air di SPS Kasih Ibu Gendangsari. Dokumentasi/SPS Kasih Ibu

GUNUNGKIDUL - Kebutuhan air bersih di Satuan PAUD Sejenis (SPS) Kasih Ibu di Kalurahan Watugajah Kapanewon Gendangsari sempat mengalami kendal. 

Selama sepekan, tampungan air di lembaga pendidikan anak usia dini tersebut dilaporkan surut akibat kerusakan talang air.

Kondisi ini sempat mengganggu aktivitas pembelajaran, terutama kebiasaan cuci tangan setelah makan dalam program makan bergizi gratis (MBG).

Baca Juga: Cerita Ezra Timothy Nugroho, Alumni UGM Yang 57 Hari Berada di Benua Antartika; Temukan Spesies Hewan Berusia 3.500 Tahun

Kepala SPS Kasih Ibu, Endah Sri Suryatmi, menjelaskan bahwa sumber air sebenarnya tersedia dari sumur. Namun, rusaknya talang membuat aliran air ke bak penampungan tidak optimal sehingga lama-kelamaan habis. 
 
“Kosong, tapi masih ada airnya sedikit berkat dapat tambahan dari air hujan. Lama-lama habis, dan kemarin sudah mau beli air tangki,” ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (9/4/2026).
 
Endang mengaku, selama talang rusak ia biasanya membeli air satu tangki mobil seharga Rp 350 ribu.
 
Ia pun sempat mencari informasi terkait harga air tangki yang lebih murah melalui kenalan wali murid.
 
Baca Juga: WFH di Pemkab Sleman Belum Dimulai Jumat Ini, Akan Disesuaikan dengan Pemprov DIY
 
Namun, saat air tangki hendak dibeli, terdapat komunikasi yang tidak utuh. Sehingga, ada salah satu walimurid yang membuat video terkait kondisi tersebut terlanjur beredar di media sosial hingga menjadi viral.
 
“Awalnya mau beli sendiri, karena ada info harga Rp 150 ribu per tangki. Tapi ternyata videonya diunggah dan viral. Kami justru taunya dari situ,” imbuhnya.
 
Dalam kondisi darurat, pihak sekolah sempat meminjam air dari sumur milik warga sekitar, termasuk rumah mantan dukuh setempat.
 
Baca Juga: Duh, Dispensasi Nikah di Sleman Capai 112 Kasus: Mayoritas karena Kehamilan Tidak Diinginkan
 
Dengan jumlah tujuh murid dan dua guru, kebutuhan air tetap menjadi prioritas, terutama untuk pembiasaan hidup bersih. Kini, kebutuhan tersebut telah tertangani.
 
Bantuan air bersih dari seorang dermawan telah dikirim langsung ke lokasi pada Kamis pagi.
 
“Tadi pagi sudah didroping oleh anggota DPRD Gunungkidul Pak Purwadi, sekarang air sudah bisa masuk ke bak penampungan dan digunakan lagi,” jelas Endah.
 
Sementara itu, Panewu Gedangsari Eko Kridiyanto menyatakan, pihaknya langsung melakukan respons cepat begitu menerima laporan.
 
Baca Juga: Tak Perlu Repot Cari Kembalian, Juru Parkir di Kebumen Mulai Arahkan Warga Bayar Pakai QRIS
 
Permasalahan dipicu oleh kerusakan instalasi air yang mengganggu aktivitas pendidikan. Ia mengaku, Forum Komunikasi Pimpinan Kapanewon telah menyepakati sejumlah langkah penanganan, mulai dari dropping air bersih menggunakan armada tangki, perbaikan instalasi pipa, hingga optimalisasi sumber air lokal dari sumur gali.
 
“Ini bentuk sinergi lintas sektoral untuk memastikan fasilitas pendidikan, terutama yang berkaitan dengan kesehatan anak, tetap terjaga,” ujarnya.
 
Di tingkat kabupaten, kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau juga diperkuat. Kepala BPBD Gunungkidul Purwono mengungkapkan, pihaknya telah menyiapkan sekitar 1.500 tangki air untuk distribusi ke wilayah terdampak kekeringan.
 
Baca Juga: Kala Brongkos Kantin Balai Kota Jogja Jadi Jamuan Petinggi Partai PDI Perjuangan, Kacang Tolo dan Koyor Jadi Saksi Bisu Pembahasan Rekonsolidasi Fiskal Kota Jogja 
 
“Empat armada sudah disiapkan untuk wilayah rawan, termasuk Gedangsari. Koordinasi terus dilakukan agar distribusi berjalan lancar,” katanya.
 
Ia menambahkan, jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya sekitar 300 tangki.
 
Sejumlah kapanewon seperti Panggang, Purwosari, Paliyan, Rongkop, Tanjungsari, Patuk, Nglipar, dan Gedangsari menjadi prioritas distribusi.
 
Baca Juga: Laga PSIM Jogja Kontra PSM Makassar, Kuota Tiket 7.500, Penjualan Belum Capai 50 Persen
 
Ia mengimbau masyarakat untuk bijak menggunakan air serta segera melaporkan apabila terjadi kendala serupa.
 
“Jika ada laporan kebutuhan air kami siap droping,” pungkasnya mengakhiri. (bas)
Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Kasih Ibu #Gunungkidul #tampungan air #paud