Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Harga Plastik di Gunungkidul Menukik Tajam, Badan Pangan Nasional Sebut Bahan Baku di Indonesia Terbatas|: Pelaku UMKM Pertimbangkan Alternatif Kemasan Nonplastik

Yusuf Bastiar • Jumat, 3 April 2026 | 19:42 WIB
LANGKA: Dalam beberapa pekan terakhir terjadi kelangkaan air mineral kemasan sekali pakai dalam bentuk galon di Gunungkidul. (Yusuf Bastiar/Radar Jogja)
LANGKA: Dalam beberapa pekan terakhir terjadi kelangkaan air mineral kemasan sekali pakai dalam bentuk galon di Gunungkidul. (Yusuf Bastiar/Radar Jogja)

GUNUNGKIDUL - Harga plastik di Gunungkidul mengalami kenaikan tajam hingga 50 persen dalam beberapa pekan terakhir.

Lonjakan ini mulai dirasakan pelaku usaha, khususnya sektor UMKM yang bergantung pada kemasan plastik. Kondisi tersebut dipicu keterbatasan bahan baku biji plastik di tingkat global. 

Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional (BPN) Sarwo Edhy mengatakan, pemerintah telah memanggil produsen plastik untuk mencari solusi atas kenaikan harga tersebut.

 Baca Juga: Jembatan Jonge Ambrol, Akses Vital Warga Lumpuh: Jalur Utama Semanu-Pantai Selatan, Mobilitas Dialihkan ke Jalur Alternatif

“Memang harga plastik naik karena bahan bakunya terbatas. Ini juga dipengaruhi kondisi global, termasuk situasi geopolitik yang berdampak pada pasokan biji plastik impor,” katanya saat ditemui di Pasar Argosari Wonosari Gunungkidul, Jumat (3/4/2026).

Dia menjelaskan, kenaikan harga plastik tidak secara langsung memengaruhi harga bahan pangan karena sifatnya terpisah.

 Pedagang, kata dia, kini mulai menerapkan kebijakan tambahan biaya bagi konsumen yang membutuhkan kantong plastik.

“Kalau konsumen membawa kantong sendiri tidak masalah. Tapi kalau pakai plastik, dikenakan biaya sekitar Rp 500. Ini untuk menutup kenaikan harga plastik,” ujarnya.

Baca Juga: Oknum Guru SLB Pembina Yogyakarta Hanya Wajib Lapor, Kuasa Hukum Siswi Disabilitas Korban Pelecehan Seksual Kecewa

Kendati demikian, ia mengaku pemerintah pusat terus mengupayakan agar pasokan bahan baku plastik bisa ditingkatkan, sehingga harga dapat kembali stabil.

Di sisi lain, stabilnya harga bahan bakar minyak (BBM) turut membantu menahan kenaikan harga pangan karena biaya distribusi tidak ikut terdongkrak. 

“Penyebabnya karena bahan bakunya apa terbatas mungkin karena kan sekarang kita tahu ada lagi perang Iran sama Israel dan Amerika kan itu juga sangat berpengaruh terhadap biji-biji plastik yang kita impor,” terangnya.

 Baca Juga: Pusat Bangun 34 Jembatan Garuda di Kulon Progo, Anggaran Per Jembatan Capai Rp 100 Juta hingga Rp 400 Juta

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Tenaga Kerja Gunungkidul Kelik Yuniantoro membenarkan adanya lonjakan harga plastik yang cukup signifikan.

Menurutnya, kondisi ini tidak hanya terjadi di daerah, melainkan dampak dari gangguan rantai pasok global.

Di Gunungkidul, kenaikan harga plastik mencapai 50 persen. Meski begitu, ia menilai kondisi tersebut masih wajar, sebab dilatarbelakangi faktor global. 

“Misal, yang tadinya Rp 10 ribu naik menjadi Rp 15 ribu, ini terutama karena plastik merupakan turunan dari minyak. Rantai pasoknya sedang terganggu,” katanya.

Baca Juga: Susunan Pemain Resmi Dewa United vs PSIM Jogja, Siapa Yang Akan Amankan 3 Poin?

Diperkirakan dalam satu hingga dua pekan ke depan masih akan terjadi gejolak harga sebelum pasar menemukan titik keseimbangan baru.

Pemerintah daerah pun belum bisa berbuat banyak karena sumber masalah berada di level global.

Bahkan, di Gunungkidul sendiri terjadi kelangkaan air kemasan dalam bentuk galon beberapa pekan terakhir ini. Hal ini juga dipengaruhi karena bahan baku utama kemasannya menggunakan plastik.

“Ya akan terjadi turbulensi. Ini bukan hanya di Gunungkidul, tapi seluruh dunia. Masyarakat dan pelaku usaha harus mulai beradaptasi,” imbuhnya.

Baca Juga: Link Live Streaming BRI Super League Dewa United vs PSIM Jogja Jumat 3 April 2026

Dampak paling terasa dialami pelaku UMKM. Salah satunya produsen bolu kelapa jadul asal Kalurahan Putat Kapanewon Patuk, Putri Ana.

Ia terkejut saat mengetahui harga plastik kemasan melonjak drastis dalam waktu singkat pada Senin (30/3/2026) lalu.

Sebelumnya harga plastik di pasaran masih tergolong stabil. Namun, kondisi saat ini naik tajam bahkan ada yang sampai dua kali lipat.

Kenaikan itu membuat biaya produksi membengkak. Putri pun kini dihadapkan pada dilema antara menaikkan harga jual atau mempertahankan harga dengan risiko keuntungan menipis.

Baca Juga: IRGC Luncurkan Eempat Rudal Ghadr Ke Kapal Induk USS Abraham Lincoln

“Kalau harga dinaikkan, takut pelanggan lari. Tapi kalau tidak, biaya produksi makin berat. Apalagi bukan cuma plastik, bahan lain seperti tepung dan gula juga ikut naik,” keluhnya.

Dia mulai mempertimbangkan alternatif kemasan non-plastik. Namun, proses peralihan dinilai tidak mudah karena membutuhkan penyesuaian dari sisi produksi hingga preferensi konsumen.

“Saat ini memikirkan bagaimana melakukan efisiensi dan adaptasi agar tetap bertahan di tengah tekanan biaya produksi,” tandasnya. (bas/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#harga plastik #nonplastik #badan pangan nasional #Naik Tajam #Gunungkidul