Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bukan karena Konflik Timur Tengah, Inflasi Tahunan Gunungkidul Tembus 3,98 Persen pada Maret 2026 Dipicu Harga Emas

Heru Pratomo • Kamis, 2 April 2026 | 20:11 WIB
BPS Gunungkidul sedang memaparkan perkembangan indeks harga konsumen di Bumi Handayani selama periode Maret 2026. (Yusuf Bastiar/Radar Jogja)
BPS Gunungkidul sedang memaparkan perkembangan indeks harga konsumen di Bumi Handayani selama periode Maret 2026. (Yusuf Bastiar/Radar Jogja)

 

GUNUNGKIDUL - Gejolak geopolitik akibat konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel belum berdampak langsung pada harga kebutuhan pokok di Kabupaten Gunungkidul. Badan Pusat Statistik (BPS) memastikan lebih dari 200 komoditas yang dipantau masih dalam kondisi aman tanpa indikasi kelangkaan. Sementara itu, inflasi Maret 2026 tercatat sebesar 0,55 persen.

Kepala BPS Gunungkidul Agus Hartanto menegaskan, hingga saat ini dampak konflik global belum terasa signifikan di daerah, khususnya pada sektor pangan. “Secara langsung inflasi di Gunungkidul belum terpengaruh perang Iran melawan Amerika-Israel. Dampaknya lebih ke komoditas energi seperti minyak, bukan makanan,” ujarnya saat ditemui di Gedung BPS Gunungkidul, Kamis (2/4/2026).

Baca Juga: BPS Sebut Inflasi di Kota Jogja Imbas Perang Global serta Kebutuhan Lebaran

Ia menambahkan, pemerintah pusat telah melakukan berbagai langkah antisipasi untuk meredam dampak global, termasuk kebijakan pengaturan kerja aparatur sipil negara (ASN) serta pengendalian sektor energi. Berdasarkan survei bulanan yang ia lakukan, inflasi bulan ke bulan (month to month) pada Maret 2026 sebesar 0,55 persen. Sementara inflasi tahun kalender mencapai 1,04 persen, dan inflasi tahunan (year on year) sebesar 3,98 persen. 

“Kalau di daerah, kami belum melihat dampak langsung. Di lapangan juga belum ditemukan kelangkaan komoditas. Dari survei kami, lebih dari 200 komoditas relatif aman,” jelasnya.

Sementara itu, Statistisi Pertama BPS Gunungkidul Ardiyas Munsyianta menjelaskan, penyumbang utama inflasi bulanan berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 0,30 persen. “Komoditas yang dominan menyumbang inflasi di antaranya daging ayam ras, tomat, dan bayam,” terangnya.

Selain itu, komoditas seperti emas perhiasan, bensin, dan sejumlah sayuran juga turut memberikan andil terhadap kenaikan indeks harga konsumen. Namun demikian, beberapa komoditas justru mengalami penurunan harga, seperti wortel, bawang putih, cabai hijau, hingga telur ayam ras, yang ikut menahan laju inflasi.

“Inflasi ini cenderung dipengaruhi harga emas,” terangnya.

Baca Juga: Bensin, Daging Ayam Ras hingga Emping Jadi Pemicu Inflasi di Kota Jogja, BPS: Imbas Perang Global serta Kebutuhan Lebaran

Ia menegaskan, stabilitas harga di Gunungkidul masih terjaga berkat pasokan yang relatif aman serta distribusi yang lancar. Meski demikian, pihaknya tetap mewaspadai potensi dampak lanjutan dari dinamika global, terutama pada sektor energi yang berpotensi merembet ke biaya produksi dan distribusi.

“Yang perlu diantisipasi ke depan memang efek tidak langsung, terutama dari kenaikan harga energi. Tapi untuk saat ini, kondisi masih terkendali,” tuturnya. (bas/pra)

Editor : Herpri Kartun
#geopolitik #Gunungkidul #iran #Amerika Serikat #kebutuhan pokok