GUNUNGKIDUL - Ahmad Tri Efendi, bocah 10 tahun dari Dusun Jeruken, Kalurahan Girisekar, Kapanewon Panggang akhirnya kembali mengenyam pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Yappi Pijenan. Fendi telah tiga tahun ini putus sekolah demi merawat kedua orangtuanya yang sakit.
Hak itu disampaikan Dukuh Jeruken Winarsih. Menurutnya, Fendi kembali masuk sekolah setelah dijemput teman-temannya pada Senin (30/3).
"Hari ini (Senin) kembali masuk sekolah. Tadi bersama salah seorang temannya diampiri dan diajak bareng. Disambut antusias oleh teman-temannya di sekolah,” ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (30/3).
Fendi merupakan anak ketiga dari pasangan Slamet, 51, dan Siaminah, 48, warga Jeruken RT 06/RW 09. Ia terpaksa berhenti sekolah sejak kelas 1 MI tiga tahun lalu karena harus membantu merawat kedua orang tuanya yang sakit. Kondisi keluarga yang serba terbatas membuat Fendi memilih mengalah demi kebutuhan di rumah.
Saat ini, kondisi kesehatan orang tuanya masih dalam penanganan Pemkab Gunungkidul. Bahkan pada hari yang sama Fendi kembali sekolah, ibunya menjalani kontrol kesehatan di RSUD Wonosari. Meski demikian, semangat untuk kembali belajar mulai tumbuh berkat dukungan berbagai pihak.
Baca Juga: Bupati Sleman Harda Kiswaya Pastikan Tidak Akan Terapkan WFH bagi ASN
"Mohon doanya semoga tetap semangat bersekolah. Warga dan pemerintah juga bahu membahu membantu keluarga ini,” tambah Winarsih.
Kepastian kembalinya Fendi ke bangku sekolah dikonfirmasi Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Gunungkidul. Kepala Kantor Kemenag Gunungkidul Mukotip memastikan, Fendi bisa kembali bersekolah tanpa terbebani biaya.
"Saya minta Fendi untuk masuk kembali dan alhamdulillah kini sudah bersekolah. Kami juga meminta kepala madrasah untuk membebaskan segala biaya,” tegasnya saat ditemui di kantornya.
Baca Juga: Soal Demo Karyawan CV Evergreen, Bupati Sleman Sebut Akan Lakukan Komunikasi dengan Perusahaan
Mukotip menjelaskan, sebelum putus sekolah, Fendi merupakan siswa kelas 1 MI di Girisekar. Keputusan berhenti sekolah diambil karena keinginan membantu keluarga, mengingat ayahnya juga mengalami sakit syaraf, sehingga tidak bisa beraktivitas normal.
Menurutnya, penanganan kasus Fendi tidak cukup hanya mengembalikannya ke bangku sekolah, tetapi juga harus menyentuh persoalan ekonomi keluarga. Hal itu penting agar Fendi bisa terus melanjutkan pendidikan hingga jenjang lebih tinggi.
"Saya minta tidak hanya sampai MI, tetapi bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya. Bahkan tidak hanya Fendi, anak-anak lain dengan kondisi serupa juga harus kita bantu,” ungkapnya.
Ia menegaskan, pemerataan akses pendidikan menjadi kunci peningkatan kualitas sumber daya manusia di Gunungkidul. Oleh karena itu, pihaknya berkomitmen mendorong kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat dalam menangani kasus anak putus sekolah.
"Sehingga anak-anak bisa mendapatkan hak pendidikan secara merata dan tinggi di Gunungkidul. Dengan begitu SDM bisa semakin baik,” tandasnya. (bas/laz)