Namun hujan yang mengguyur wilayah tersebut memicu longsor susulan yang kembali menutup sebagian badan jalan.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Purwono mengatakan, longsor susulan tersebut berasal dari sumber longsoran yang sama dengan kejadian sebelumnya pada Selasa (3/3).
“Longsoran susulan ini berasal dari sumber yang sama dengan longsoran awal, bukan dari rekahan di bagian atas bukit,” ujarnya saat dihubungi wartawan, Minggu (8/3/2026).
Ia memastikan sumber longsoran bukan berasal dari retakan tanah sepanjang sekitar 50 meter di bagian atas tebing yang ditemukan pada Selasa (3/3) lalu.
Bahkan, kata dia, setelah dicek kembali retakan tersebut tetap pada posisi mundur 26 meter dari bibir tebing. Pasca longsor susulan, kondisi retakan dinilai masih stabil dan tidak mengalami pelebaran.
Ia menegaskan, longsor susulan terjadi karena bagian bawah tebing telah kehilangan penopang setelah material longsoran sebelumnya diangkut saat proses pembersihan.
“Bagian bawahnya sudah dibersihkan, sehingga tidak ada penopang. Saat hujan turun, material di atas langsung meluncur ke bawah,” jelasnya.
Ia menuturkan, material longsor dari kejadian sebelumnya sebenarnya telah dibersihkan sepenuhnya pada Sabtu (7/3) sekitar pukul 16.00.
Setelah itu alat berat meninggalkan lokasi dan petugas memanfaatkan satu unit mobil pemadam kebakaran untuk membersihkan lumpur di badan jalan agar tidak licin bagi pengguna jalan.
Namun tidak lama kemudian hujan turun dan kembali memicu longsoran baru.
“Longsor susulan itu volumenya sekitar 10 meter kubik dan kembali menutup separuh jalan di Clongop,” katanya.
Baca Juga: ESDM Tegaskan Harga BBM Bersubsidi Tak Naik, Masyarakat Diminta Tak Panic Buying
Petugas BPBD bersama tim gabungan kemudian kembali mendatangkan alat berat untuk melakukan pembersihan material.
Proses pembersihan dimulai sejak Minggu pagi (8/3) dan masih berlangsung hingga sore hari.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul Edy Winarta mengatakan, pihaknya menerjunkan empat personel untuk mendampingi proses penanganan longsor susulan.
Penanganan dilakukan dengan metode pengerukan material menggunakan alat berat serta pemotongan pohon yang berpotensi roboh.
“Penanganan dilakukan dengan pengerukan material menggunakan loader dan pemotongan pohon yang rawan longsor,” ujarnya.
Dalam proses pembersihan tersebut, sejumlah peralatan dikerahkan di antaranya satu unit loader, satu unit dump truck, serta dua unit gergaji mesin.
Selama proses penanganan berlangsung, arus lalu lintas di jalur tersebut tetap dibuka secara terbatas dengan pengawasan ketat dari petugas.
Edy menambahkan, potensi longsor susulan di kawasan tersebut masih cukup tinggi.
Hal ini karena di bagian atas tebing terdapat retakan besar yang sewaktu-waktu dapat memicu pergerakan tanah.
“Pemotongan pohon juga dilakukan untuk mengurangi beban di area tersebut. Harapannya jika terjadi longsor lagi, pohon tidak sampai menutup jalan,” katanya.
Masyarakat yang melintas di jalur Clongop diimbau tetap berhati-hati, terutama saat hujan turun karena potensi longsor susulan masih dapat terjadi.
Hingga kini, penanganan permanen di lokasi tersebut masih menunggu kajian lebih lanjut dari instansi terkait.
“Kalau hujan deras mengguyur jalur ini, petugas kepolisian dan dua tim kami yang kami siagakan disitu langsung menutup akses jalan, agar tidak bahaya,” tutupnya. (bas)
Editor : Bahana.