Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Selama Februari Bencana di Gunungkidul Didominasi Longsor karena Berada di Wilayah Karst

Yusuf Bastiar • Sabtu, 7 Maret 2026 | 04:40 WIB

 

SIAP DIPINDAH: Titik paling parah longsor di Padukuhan Jono, Kalurahan Tancep menimpa rumah milik Suyoto. Langkah mitigasi kebencanaan, rumah itu akan direlokasi ke tempat ya
SIAP DIPINDAH: Titik paling parah longsor di Padukuhan Jono, Kalurahan Tancep menimpa rumah milik Suyoto. Langkah mitigasi kebencanaan, rumah itu akan direlokasi ke tempat ya

 

GUNUNGKIDUL - Kejadian bencana alam di Gunungkidul sepanjang Februari 2026 didominasi tanah longsor. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul mencatat total terjadi 92 kejadian bencana dengan dampak terhadap ratusan warga di berbagai kapanewon.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul Edy Winarta mengatakan, dari total kejadian tersebut tanah longsor menjadi jenis bencana yang paling banyak terjadi. Persentasenya mencapai hampir 60 persen dari seluruh kejadian bencana selama Februari.

“Hal ini berkaitan dengan kerentanan wilayah karst yang cukup tinggi terhadap longsor saat musim hujan,” ujarnya saat ditemui di Wonosari, Jumat (6/3).

Berdasarkan data BPBD, lanjut dia, dari total 92 kejadian bencana tersebut terdapat 55 kejadian tanah longsor, 31 kejadian cuaca ekstrem, tiga kebakaran bangunan dan permukiman serta tiga kejadian gempa bumi.

Akibat berbagai bencana tersebut, sedikitnya 322 warga terdampak. Selain itu, 37 sarana dan prasarana vital mengalami kerusakan di 14 kapanewon yang tersebar di wilayah Gunungkidul.

Edy menjelaskan, untuk kejadian tanah longsor paling banyak terjadi di Kapanewon Gedangsari dengan 20 kejadian. Disusul Ngawen sebanyak 11 kejadian dan Nglipar delapan kejadian.

Kemudian, di Ponjong dan Semin masing-masing lima kejadian, Patuk tiga kejadian, sedangkan Playen dan Panggang masing-masing satu kejadian.  “Kerugiannya mencapai ratusan juta, ini masih dirinci,” tandasnya.

Sementara itu untuk kejadian cuaca ekstrem tercatat sebanyak 31 kejadian yang tersebar di 12 kapanewon. Patuk menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak yakni delapan kejadian, diikuti Playen lima kejadian serta Wonosari dan Karangmojo masing-masing empat kejadian.

“Kalau kejadian kebakaran bangunan dan permukiman tercatat tiga kejadian yang terjadi di Kapanewon Playen, Wonosari dan Semanu,” imbuhnya.

Baca Juga: Kebutuhan Mendesak, Bupati Magelang Sebut 40 Sumber Air Bersih Rusak Akibat Banjir Lahar Hujan Merapi

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Purwono mengatakan, dominasi kejadian tanah longsor dan cuaca ekstrem menunjukkan tingginya potensi bencana hidrometeorologi di wilayah Gunungkidul saat musim hujan.

“Kondisi ini menunjukkan perlunya peningkatan kesiapsiagaan terutama pada musim penghujan,” katanya.

Menurutnya, BPBD terus melakukan berbagai upaya mitigasi untuk meminimalkan dampak bencana, termasuk peningkatan koordinasi dengan pemerintah kapanewon dan kalurahan serta penyebaran informasi peringatan dini kepada masyarakat.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi warga yang tinggal di wilayah rawan longsor maupun daerah dengan potensi cuaca ekstrem. (bas/pra)

Editor : Heru Pratomo
#kawasan karst #Gunungkidul #Bencana #BPBD #Longsor