Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Imbas Kenaikan Harga BBM, Disdagnaker Was-was Picu Kenaikan Bahan Pokok di Gunungkidul

Yusuf Bastiar • Selasa, 3 Maret 2026 | 15:14 WIB

Warga Gunungkidul kidul sedang melakukan isi ulang BBM di salah satu POM Bensin di Kapanewon Wonosari pada Selasa sore (3/3)
Warga Gunungkidul kidul sedang melakukan isi ulang BBM di salah satu POM Bensin di Kapanewon Wonosari pada Selasa sore (3/3)
GUNUNGKIDUL - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi per 1 Maret 2026 mulai dirasakan di Gunungkidul.

Meski stok dipastikan aman dan belum ada antrean panjang di SPBU, Dinas Perdagangan dan Tenaga Kerja (Disdagnaker) Gunungkidul mengaku waswas dampaknya merembet pada kenaikan harga bahan pokok (bapok) menjelang Idulfitri.

Kepala Bidang Perdagangan Disdagnaker Gunungkidul Ris Heryani mengatakan, penyesuaian harga sepenuhnya mengikuti kebijakan pemerintah pusat.

“Per 1 Maret memang ada perubahan harga. Sehari setalah perang Iran melawan Israel dan Amerika. Kami di daerah mengikuti pusat, baik soal harga maupun stok,” ujarnya saat ditemui, Selasa (3/3/2026).

Adapun rincian harga terbaru di SPBU yakni Pertamax Turbo naik dari Rp 12.700 menjadi Rp 13.100 per liter, Pertamax Green dari Rp 12.450 menjadi Rp 12.900, Pertamax dari Rp 11.800 menjadi Rp 12.300, Dexlite dari Rp 13.250 menjadi Rp 14.200, serta Pertamina Dex dari Rp 13.500 menjadi Rp 14.500 per liter.

Sementara itu, Pertalite tetap Rp 10.000 dan Biosolar subsidi Rp 6.800 per liter. Ris menegaskan, hingga kini belum ada laporan kelangkaan maupun kepanikan pembelian di Gunungkidul.

“Ada peningkatan pembeli, tapi masih normal. Tidak ada antrean panjang karena khawatir kehabisan,” jelasnya.

Meski demikian, pihaknya mengakui dinamika geopolitik global turut memengaruhi harga minyak dunia.

Pemerintah kabupaten, kata dia, masih menunggu arahan lebih lanjut dari pusat apabila situasi berkembang dan membutuhkan langkah antisipatif lintas sektor.

Menurutnya, jika harga BBM bersubsidi juga turut terkena imbas kenaikan harga, hal tersebut akan mempengaruhi harga bahan pokok.

“Semiga harga Bapok tidak sampai terdampak. Kami tentu berharap kondisi geopolitik segera mereda sehingga harga minyak stabil dan tidak memicu kenaikan bahan pokok lain, apalagi ini menjelang Lebaran,” imbuhnya.

Kekhawatiran serupa disampaikan warga Wonosari Rizky Saputra. Ia mengaku baru saja mengisi Pertalite di salah satu SPBU di Wonosari dan mengetahui kenaikan harga Pertamax dari media sosial.

Sehari-hari, sebagai pekerjaan swasta ia selalu menggunakan BBM jenis Pertamax untuk sepeda motornya. Alasannya karena kualitas yang ramah untuk mesin.

“Pertamax naik sekitar Rp 500 per liter. Saya khawatir kalau harga BBM naik, ongkos transportasi ikut naik, lalu harga bahan makanan juga ikut naik,” ujarnya.

Menurutnya, momentum menjelang Idul Fitri biasanya diiringi kenaikan harga kebutuhan pokok. Tambahan tekanan dari kenaikan BBM dikhawatirkan semakin membebani masyarakat.

“Ya mau lebaran, sekarang saja apa-apa serba mahal, apalagi kalau ditambahi beban konflik di dunia, waduh kalau dampaknya ke ekonomi kasian masyarakat kecil,” keluhnya mengakhiri. (bas)

Editor : Bahana.
#Kenaikan BBM nonsubsidi #Gunungkidul #Disdagker #bahan pokok