Kisah Suroso dan Rak Pakcoy: Ikhtiar Warga Patuk Gunungkidul Tekan Pengeluaran Dapur dari Pekarangan
Yusuf Bastiar• Sabtu, 28 Februari 2026 | 10:10 WIB
Suroso sedang menghampiri mahasiswa di instalasi hidroponik. Ia tertarik merawatnya agar tahu bagaimana siklus pertanian dengan sistem hidroponik.
GUNUNGKIDUL - Sore itu angin berembus pelan di Padukuhan Bobung, Kalurahan Putat, Kapanewon Patuk setelah seharian diguyur hujan.
Hamparan sawah tampak menguning menjadi penanda bahwa wilayah ini sejak lama bertumpu pada sistem pertanian lahan basah. Dalam setahun, warga bisa dua kali panen padi. Lumbung beras relatif aman. Namun soal sayur, ceritanya berbeda.
Sore itu, Suroso mengendarai sepeda motornya menuju balai Padukuhan Bobung. Di sela deretan pepohonan di pelataran balai, Suroso memarkirkan motornya. Ia langsung menatap rak hidroponik berukuran 1x2 meter.
Ia menghampiri beberapa mahasiswa yang sedang sibuk. Sampai di sana, tangannya langsung memeriksa daun-daun pakcoy yang baru sepekan ditanam.
“Ini baru kurang dari satu minggu. Saya cek pertumbuhannya,” ujarnya antusias saat ditemui, Jumat (27/2/2026).
Bobung dikenal sebagai desa dengan lahan luas. Hampir semua warga menanam padi saat musim tanam tiba. Sayur mayur jarang dibudidayakan. Jika ingin memasak berbagai jenis sayur atau sekadar mie rebus, warga harus membeli ke pasar atau menunggu pedagang keliling lewat.
“Untuk beras saya bisa ambil dari sawah. Tapi sayur hampir selalu beli. Padahal sekarang harga sayuran mahal,” katanya.
Perkenalan dengan sistem hidroponik datang dari mahasiswa KKN Reguler 155 VII.C.I Universitas Ahmad Dahlan. Ide sederhana itu justru membangkitkan antusiasme Suroso. Ia sadar, ukuran instalasi itu kecil. Bukan kebun luas seperti sawahnya. Namun baginya, ini bukan sekadar percobaan biasa.
“Ini eksperimen warga. Memang orientasinya bukan dijual. Untuk konsumsi sendiri. Kalau mau bikin nasi goreng, pakcoynya bisa petik sendiri,” tuturnya.
Langkah kecil itu menyimpan target besar. Ia membayangkan suatu hari tembok samping rumahnya dipenuhi instalasi hidroponik sederhana. Kebutuhan dapur tak lagi sepenuhnya bergantung pada pasar.
“Target saya, yang dibeli itu hanya bumbu seperti garam dan bawang. Sayur bisa dari sini. Ini untuk menekan pengeluaran keluarga.”
Di benaknya, kombinasi sawah dan hidroponik adalah jawaban atas kegelisahan pribadi sekaligus kebutuhan kampung. Padi dari lahan basah, sayur dari pekarangan. Dari sini ia yakin, ketahanan pangan dapat dimulai dari rumah.
Anak-anak KKN, kata Suroso, tak hanya membawa instalasi pipa dan benih, tapi juga semangat. Meski istilah hidroponik bukan hal asing, belum ada warga yang benar-benar mencoba.
“Karena kebetulan ini ada, saya ingin jadi yang pertama mencoba. Kalau berhasil, saya buat sendiri di rumah. Hasilnya akan saya bagikan ke warga supaya mereka mau ikut,” ujarnya mantap.
Ketua KKN Reguler 155 VII.C.I UAD Firlan Sri Mulayman mengisahkan, awal mula gagasan itu tumbuh. Dari hasil observasi, mereka melihat potensi desa wisata dan pertanian yang luas.
Namun hampir tak ada warga yang menanam sayur. Diskusi kecil dengan warga ternyata disambut antusias. Instalasi sederhana itu pun dibangun bersama. Firlan menegaskan, ini memang percobaan, tetapi bukan coba-coba tanpa arah.
“Setiap kami masak, sayur selalu beli di pasar. Dari situ muncul ide hidroponik. Ada harapan warga bisa berdaulat pangan. Seperti beras yang ditanam sendiri, sayur juga diupayakan dari kampung sendiri,” ujarnya.
Kini, di sela hijaunya padi Bobung, daun-daun pakcoy mulai tumbuh pelan dalam pipa-pipa putih. Mungkin belum seberapa. Namun bagi Suroso, ini adalah awal.
Suroro selalu percaya, ketahanan pangan tak selalu dimulai dari program besar. Kadang cukup dari satu rak kecil di pekarangan. Dari keberanian menjadi yang pertama mencoba. Dari keyakinan bahwa dapur yang kuat adalah pondasi keselamatan ekonomi keluarga. (bas)