GUNUNGKIDUL - Serapan gabah petani Gunungkidul untuk kebutuhan Perum Bulog menunjukkan progres signifikan.
Hingga 22 Februari, realisasi telah mencapai 7.808.110 kilogram atau sekitar 78 persen dari target 9.929.460 kilogram.
Meski demikian, serapan beras masih jauh dari angka yang ditetapkan.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul Rismiyadi menjelaskan, target pengadaan beras Bulog tahun ini sebesar 5.927.140 kilogram.
Namun hingga tanggal yang sama, realisasinya baru 844.500 kilogram.
“Untuk gabah progresnya sudah cukup baik, mendekati target. Sedangkan beras memang masih rendah karena prosesnya bertahap mengikuti penggilingan dan distribusi,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (24/2/2026).
Menurut dia, tingginya serapan gabah dipengaruhi mulai masuknya masa panen di sejumlah sentra produksi.
Panen raya yang berlangsung bertahap diharapkan mampu mendongkrak capaian hingga melampaui target.
Adapun rendahnya realisasi beras, ia menyebut disebabkan proses pascapanen yang membutuhkan waktu.
Gabah yang terserap, kata dia, masih harus melalui pengeringan dan penggilingan sebelum menjadi beras siap distribusi ke gudang Bulog.
“Kami terus berkoordinasi agar serapan, baik gabah maupun beras, bisa optimal. Ini penting untuk menjaga stabilitas pasokan dan mendukung ketahanan pangan daerah,” tambahnya.
Di tingkat petani, panen mulai dirasakan. Petani asal Kalurahan Hargomulyo Kapanewon Gedangsari Tumiem mengaku, baru saja memanen padi di lahan seluas 4.000 meter persegi.
Dari lahan tersebut, ia memperoleh sekitar 50 karung gabah basah. “Ini saya tanam benih unggulan jenis Supadi, baru dua tahun masuk Gedangsari, aslinya dari Klaten. Hasilnya lumayan,” ujarnya.
Tumiem memilih mengolah gabahnya sendiri hingga menjadi beras sebelum dijual. Menurut dia, harga gabah basah di tingkat petani sekitar Rp 7.000 per kilogram.
Namun jika sudah menjadi beras, harganya bisa mencapai Rp 17.000 hingga Rp 19.000 per kilogram karena kualitasnya pulen dan diminati konsumen.
Ia mengaku belum memahami mekanisme penjualan gabah ke Bulog, termasuk standar harga yang ditetapkan.
“Saya tahu ada pembelian ke Bulog, tapi belum tahu caranya bagaimana dan harganya berapa. Kalau memang lebih mahal tentu saya mau,” pungkasnya. (bas)