Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Masjid Ka’bah Asy Syuhada di Puncak Gunung Batur Agung: Dulu Berbahan Kayu, Kini Dilapisi Batu Alam Menyerupai Kakbah

Yusuf Bastiar • Senin, 23 Februari 2026 | 21:30 WIB

 

Masjid Ka'bah Asy Syuhada menjadi magnet bagi warga Padukuhan Batur Turu Kalurahan Mertelu untuk melakukan kegiatan ibadah.
Masjid Ka'bah Asy Syuhada menjadi magnet bagi warga Padukuhan Batur Turu Kalurahan Mertelu untuk melakukan kegiatan ibadah.

GUNUNGKIDUL - Di puncak Gunung Batur Agung, berdiri Masjid Ka’bah Asy Syuhada yang bentuknya menyerupai Kakbah di Tanah Suci.

Masjid unik di Padukuhan Batur Turu, Kalurahan Mertelu, Kapanewon Gedangsari ini menjadi simbol gotong royong warga, yang tiga dekade lalu hanya memiliki bangunan kayu sederhana berukuran 7x7 meter sebagai satu-satunya tempat ibadah. 

Pada tiga dekade silam, bangunan masjid ini hanya berupa masjid kecil berbahan kayu geblek.

Namun, kini dinding luarnya berlapis batu alam, tanpa jendela, dengan tiga tiang utama penyangga.

Tokoh agama setempat Sukiran, 63, mengisahkan awal mula berdirinya masjid di padukuhan tersebut.

Pada awal 1990-an, warga Batur Turu belum memiliki tempat ibadah sendiri.

 Baca Juga: Pengendara Motor Keluhkan Jalan Kusumanegara Bergelombang, Ini Tanggapan Pemkot Jogja

“Dulu tidak ada masjid di padukuhan sini. Warga kalau mau ibadah harus keluar padukuhan, ke sana ke sini. Akhirnya kami berupaya punya masjid atau musala sendiri,” tuturnya saat ditemui di dalam masjid Kakbah tersebut, kemarin (23/2).

Keinginan itu terwujud setelah ia berbicara dengan saudara tuanya yang kemudian mewakafkan sebidang tanah seluas 7x7 meter.

Tepat pada Ahad Manis, Juli 1990, masjid sederhana berbahan kayu geblek itu resmi berdiri.

Meski kecil, keberadaannya menjadi tonggak penting bagi kehidupan religius warga di lereng pegunungan Batur Agung.

“Itu pun sudah pres, pas-pasan sekali, termasuk terasnya,” ujarnya sembari mengingat.

Seiring waktu, semangat masyarakat tak pernah surut. Momentum besar datang ketika seorang donatur yang disebut berasal dari jajaran Polda DIY.

Pada awal 2022, donatur tersebut menggagas pembangunan masjid berbentuk Kakbah. Bentuk tersebut memang menjadi permintaan khususnya.

“Total biaya lebih dari Rp 1,4 miliar untuk membangun masjid ini,” ungkap Sukiran.

Pembangunan dimulai pada 2022 dan rampung 2023. Prosesnya memakan waktu sekitar tujuh bulan.

Ukuran bangunan kini mencapai 10x10 meter dengan tinggi menjulang 14 meter.

Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Ka’bah Asy Syuhada Ngatimin, 54 menjelaskan, masjid lama yang hanya sekitar 7 meter persegi sudah tak lagi mampu menampung jemaah.

“Karena kepengin sekali punya masjid yang layak, masyarakat membangun siang malam. Semua warga Padukuhan Batur Turu berbondong-bondong ikut kerja bakti membangun masjid Kakbah ini,” katanya.

Desain masjid dibuat menyerupai kakbah. Dinding luar dilapisi batu alam, tanpa jendela, dan ditopang tiga tiang agar tampilannya semakin mirip.

Bangunan ini mampu menampung sekitar 100 jemaah.

Bahkan, ia tak pernah menyangka di desa paling ujung Kapanewon Gendangsari, masjid kayu geblek berukuran 7x7 meter itu kini berubah bangunan megah di ketinggian Batur Agung.

Ia menyebut, Masjid Ka’bah Asy Syuhada menjadi simbol gotong royong dan ikhtiar warga menjaga denyut ibadah di pucuk perbukitan Gedangsari.

Alhamdulillah, sekarang masyarakat lebih giat beribadah. Salat tarawih sudah digelar di sini. Kegiatan TPA rutin berjalan, sore hari juga sering ada buka bersama untuk orang tua,” bebernya.

Keunikan bentuknya membuat masjid ini tak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga magnet kunjungan.

Warga dari luar daerah, seperti Klaten, kerap datang untuk melihat langsung, berfoto, bahkan ikut beribadah bersama. Kendati demikian, sejumlah pembenahan masih diperlukan.

Kaligrafi di dinding bagian dalam belum terpasang. Beberapa batu alam di bagian luar juga ada yang terlepas. Pagar pembatas pun belum tersedia.

“Tidak ada teras masjid, kamar mandi pun kami bangun di bagian belakang menjorok ke bawah. Ini agar ikon kakbah berdiri menjulang di atas bukit ini,” tambahnya. (bas/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#gotong royong #Gunung Batur Agung #Gunungkidul #Gedangsari #kakbah #batu alam #puncak #tanah suci