GUNUNGKIDUL - Detik-detik banjir bandang yang menerjang Padukuhan Jono, Kalurahan Tancep, Kapanewon Ngawen pada Selasa (17/2) masih membekas di ingatan Ratiem (48).
Hujan deras yang mengguyur sejak pukul 16.00 tiba-tiba berubah menjadi gemuruh menakutkan dari arah bukit di atas permukiman.
“Saya dengar suara gemuruh. Pas keluar rumah dan buka lawang, jalan depan rumah sudah penuh air,” tutur Ratiem saat ditemui di rumahnya, Rabu (18/2/2026).
Rasa cemasnya berubah menjadi kepanikan saat ia melongok ke arah perbukitan. Dari kejauhan, kata Ratiem, ia melihat batu berwarna hitam pekat melayang dengan ketinggian sekitar dua hingga tiga meter terbawa arus material longsor.
Setelah itu, ia langsung masuk rumah dan berteriak mengajak dua anak dan suaminya melarikan diri. Tak hanya itu, ia juga menyempatkan diri mengajak dua kakaknya yang sudah sepuh.
“Kaka saya rumahnya di samping saya, Saya ajak lari keluar. Saya berfikir kalau terus bertahan di rumah pasti bahaya, makanya saya lari,” ujarnya gemetaran.
Saat banjir menerjang, lanjut dia, bagian depan rumah yang merupakan akses utama padukuhan sudah tak bisa dilalui. Air bercampur lumpur, pohon, dan bebatuan bergelinding deras seperti sungai dadakan. Tanpa pikir panjang, Ratiem mengajak keluarganya menyelamatkan diri lewat kebun di belakang rumah.
“Kami berenam lari lewat belakang. Itu kebun bambu, banyak pohon, sebenarnya enggak ada jalan. Tapi kami trabas saja. Yang penting selamat,” tegasnya.
Dalam kepanikan, Ratiem yang berlari paling depan sempat terperosok hingga tiga kali. Di belakang rumah, aliran sungai sudah meluap dengan air berwarna coklat pekat. Situasi itu semakin membuatnya ketakutan.
“Kami potong jalan lagi turun ke bawah. Ternyata di bawah sudah ramai warga. Alhamdulillah kami sekeluarga selamat,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Ia mengaku, wilayahnya belum pernah mengalami banjir sebesar ini. Beberapa hari sebelumnya memang sempat ada air melintas hingga ke jalan, namun tidak sampai menerjang rumah warga.
Akibat kejadian tersebut, dua sepeda motor miliknya sempat terseret arus meski masih berada di sekitar rumah. Mesin pencacah rumput untuk pakan ternak pun hilang, ia menduga tertimbun lumpur atau terbawa banjir.
“Saya tidak berani tidur di rumah semalam. Mengungsi ke rumah saudara,” imbuhnya.
Saat ditemui ia terlihat tegar sembari menyaksikan ratusan warga melakukan pembersihan material longsor. Kini, Ratiem merasa lebih tenang melihat solidaritas warga dan pemerintah yang bahu-membahu membersihkan material longsor.
Sementara itu, Ketua RT 06 Padukuhan Jono Pujianto membenarkan banjir bandang terjadi sekitar pukul 16.00.
Ia menyebut, peristiwa serupa pernah terjadi di wilayah lain, namun tidak separah kali ini.
“Kemarin jalan seperti sungai. Air campur kayu, batu, dan lumpur mengalir deras di akses utama warga,” jelasnya.
Sejak Rabu pagi, warga bersama relawan dan aparat setempat melakukan kerja bakti membersihkan material longsor agar aktivitas masyarakat dapat kembali normal.
“Prioritas kami membuka akses jalan, membersihkan 12 rumah warga yang terdampak, ini supaya warga bisa kembali beraktivitas,” tandasnya. (bas)
Editor : Bahana.