Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bulan Ruwah, Harga Kembang Tembus Rp 650 Ribu: Diprediksi Capai Rp 1 Juta jelang Ramadan

Yusuf Bastiar • Jumat, 13 Februari 2026 | 20:15 WIB

 

LARIS MANIS: Pedagang kembang pasar argosari sedang melayani pembeli Jumat (13/2/2026) sore.
LARIS MANIS: Pedagang kembang pasar argosari sedang melayani pembeli Jumat (13/2/2026) sore.

GUNUNGKIDUL - Memasuki bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa, geliat Pasar Argosari Wonosari mulai terasa berbeda.

Lapak pedagang kembang diserbu pembeli yang hendak nyekar ke makam leluhur jelang Ramadan.

Harga kembang pun merangkak naik, bahkan diprediksi menembus Rp 1 juta per bal saat puncak permintaan.

Pedagang kembang Pasar Argosari Ngatmi mengaku, lonjakan pembeli sudah terasa sejak Natal lalu dan terus meningkat hingga pertengahan Februari ini.

“Sejak Natal sampai bulan Ruwah ini sudah ada peningkatan pembeli. Kemarin Minggu Legi dari satu kampung di Kalurahan Grogol, Playen, nyekar massal. Lumayan ramai,” ujarnya saat ditemui di Pasar Argosari Jumat (13/2/2026).

Menurutnya, harga kembang saat ini sudah naik tiga kali lipat dibanding hari biasa. Jika normalnya satu bal dijual Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu, kini mencapai Rp 650 ribu per bal.

Bahkan, ia memprediksi pekan depan bisa sampai Rp 700 ribu. Harga tersebut , akan terus merangkak hingga puncaknya pada 18 Februari atau sehari sebelum puasa. “Bisa sampai Rp 1 juta per bal,” katanya.

Kenaikan harga dipengaruhi naiknya harga dari petani bunga di Boyolali, yang menjadi pemasok utama.

Meski harga melonjak, pembeli tetap berdatangan tanpa banyak tawar-menawar. Dalam sehari, Ngatmi mengaku bisa meraup omzet kotor sekitar Rp 3,5 juta.

“Kalau beli kembang jarang ada yang menawar. Biasanya langsung bayar. Karena memang kebutuhannya untuk nyekar. Hari ini saja dari pagi sampai sore sudah sekitar Rp 3,5 juta. Itu masih kotor, sudah habis dua bal bunga,” tambahnya.

Kembang yang dijual sebagian besar digunakan untuk tradisi nyekar selama bulan Ruwah.

Selain itu, ada pula pembeli yang mencari kembang tujuh rupa untuk keperluan ritual atau padusan menjelang puncak bulan Ruwah dalam kalender jawa.

Ngatmi yang sudah berjualan sejak 1990-an menyebut, tren kenaikan harga menjelang puncak Ruwah merupakan siklus tahunan.

Bahkan, kenaikan bisa mencapai sepuluh kali lipat saat permintaan memuncak.

“Memang tiap tahun begitu. Dua minggu sebelum puncak sudah naik, lalu mencapai puncaknya di akhir Ruwah. Tapi bukan malah sepi, pembeli malah berdatangan. Ramai,” tuturnya.

Hal senada disampaikan pedagang lain, Sulatmi. Ia menyebut, jumlah pedagang kembang di Pasar Argosari bertambah selama bulan Ruwah, mencapai lima hingga sepuluh orang.

Ia menilai, lonjakan permintaan kembang ini menjadi penanda tradisi nyekar menjelang Ramadan di Gunungkidul masih terjaga, sekaligus membawa berkah tersendiri bagi pedagang pasar tradisional.

“Kalau hari biasa tidak sebanyak ini. Tapi karena pembelinya juga banyak, semua kebagian,” ujarnya.

Menurutnya, kembang menjadi komoditas paling laris mengalahkan bahan pokok lain seperti beras, minyak, telur, maupun kebutuhan dapur lainnya.

“Sekarang yang jadi primadona tetap kembang. Sampai tanggal 18 Februari nanti, pasti masih ramai,” imbuhnya. (bas/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#jelang ramadan #ruwah #Nyekar #Harga Kembang #ramadan