GUNUNGKIDUL - Menjelang bulan Ramadan, harga sejumlah kebutuhan pokok di Pasar Argosari Wonosari, Gunungkidul, mulai merangkak naik. Kenaikan paling mencolok terjadi pada komoditas cabai rawit merah yang kini menembus Rp84 ribu per kilogram. Hal ini memicu keluhan pedagang lantaran daya beli masyarakat justru melemah.
Salah satu pedagang Pasar Argosari Suherni mengatakan, kenaikan harga cabai rawit merah sudah terjadi sejak tiga hari terakhir. Sebelumnya, harga masih berada di kisaran Rp60 ribu per kilogram.
“Sekarang sudah naik jadi Rp84 ribu per kilo. Cabai keriting merah juga naik, kemarin Rp30 ribu, hari ini sudah Rp36 ribu,” ujarnya saat ditemui di kios miliknya pada Selasa, (10/2/2026).
Ia menambahkan, kondisi tersebut berpotensi merugikan pedagang. Sayuran yang dibeli dalam kondisi segar akan mengalami penyusutan berat dan kualitas jika tidak segera terjual. “Kalau sampai berhari-hari tidak laku, ya bisa rugi. Padahal stok yang saya ambil juga tidak terlalu banyak. Tapi sudah tiga hari masih menumpuk begini,” imbuhnya.
Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan Gunungkidul, Ris Heryani, menjelaskan, harga rata-rata cabai rawit merah tercatat Rp80 ribu per kilogram, naik Rp20 ribu dibanding sebelumnya.
Sementara cabai rawit hijau berada di kisaran Rp55 ribu per kilogram, cabai besar merah Rp35 ribu per kilogram, dan bawang merah Rp40 ribu per kilogram. Sejumlah bahan pokok lain seperti beras premium, gula pasir curah, dan minyak goreng relatif masih stabil.
“Ada tujuh jenis bahan pokok yang naik, cabe rawit merah naik 20 ribu. Cabe rawit besar, hijau, dan bawah merah naik lima ribu. Lainya daging ayam naik enam ribu, telur ayam naik tiga ribu dan gula pasir naik 500 perak,” terangnya.
Ris Heryani menyebut, kenaikan harga cabai dipicu oleh keterbatasan pasokan. Pasalnya, kata dia, pasokan cabai saat ini memang belum banyak lantaran belum masuk musim panen.
Ia memprediksi akan terus terjadi lonjakan kenaikan harga pada cabai, sebab, lanjut Ris, panen cabai dari luar kota justru diperkirakan setelah lebaran. Meski demikian, pihaknya berharap lonjakan harga tidak berlangsung lama.
“Kami tentu tidak berharap harga terus naik. Kondisi pasar yang sepi juga bisa dipengaruhi harga yang melonjak, sehingga masyarakat menahan belanja,” pungkasnya. (bas)
Editor : Heru Pratomo