GUNUNGKIDUL - Kajian geologi terkait fenomena sinkhole di Kalurahan Girikarto, Panggang, Gunungkidul telah rampung dilakukan. Hasil analisis menunjukkan keberadaan lapisan sedimen yang tebal dengan karakter tanah lunak dan jenuh air. Hingga kini, area tersebut masih mengalami proses deformasi dan berpotensi menimbulkan risiko lanjutan bagi keselamatan warga serta pemanfaatan ruang wilayah.
Kepala Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Gunungkidul Octavianta Raharja mengatakan, kajian tersebut dilakukan oleh tim pengabdian kepada masyarakat laboratorium geofisika, departemen fisika, fakultas sains dan matematika Universitas Diponegoro (Undip). Kajian menggunakan metode mikrotremor untuk menganalisis parameter dinamis tanah. Seperti kecepatan gelombang geser (Vs), rasio Vp/Vs, rasio poisson, serta spektrum getaran tanah.
Metode tersebut, kata dia, digunakan Undip untuk mengidentifikasi karakteristik bawah permukaan dan potensi terbentuknya sinkhole di wilayah penelitian. “Hasilnya sudah disampaikan ke kami, BPBD Gunungkidul, dan warga Girikarto,” ucapnya.
Berdasarkan hasil analisis, Octavianta menyebut sinkhole di Dukuh Bolang berada pada lapisan sedimen dengan ketebalan hingga sekitar 24 meter ke arah timur dan mencapai 41 meter ke arah utara. Dengan lebar antara 66 hingga 87 meter. Lapisan tanah di lokasi tersebut teridentifikasi sebagai material lapuk, lepas, lunak, dan jenuh air, dengan deformasi yang masih berkembang pada kedalaman relatif dangkal. “Frekuensi dominan tanah di Dukuh Bolang berada pada kisaran 1,3-1,7 Hz,” jelasnya.
“Arah aliran air bawah permukaan di Dukuh Padem terindikasi bergerak ke arah timur hingga tenggara, mengikuti struktur dan kemiringan lapisan bawah permukaan. Kondisi ini berpengaruh terhadap dinamika pembentukan rongga di bawah tanah,” jelasnya.
Selain itu, paparan juga mengungkap adanya indikasi keberadaan fluida atau akuifer air tanah pada kedalaman tertentu di beberapa lintasan pengukuran. Namun, keberadaan akuifer tersebut masih memerlukan verifikasi lanjutan menggunakan metode geofisika pembanding. Seperti survei geolistrik, agar diperoleh hasil yang lebih komprehensif dan akurat. “Itu hasil yang sampaikan ke kami,” sebutnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul Edy Winarta menilai, hasil kajian tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan penting dalam penyusunan langkah mitigasi bencana dan pengelolaan wilayah di Girikarto. “Hasil kajian ini sangat relevan untuk perencanaan tata ruang dan kesiapsiagaan bencana,” ujarnya.
Terkait tindak lanjut hasil kajian, saat ini masih dalam tahap pembahasan lintas sektor. Pemerintah kabupaten akan mengkaji lebih lanjut rekomendasi teknis sebelum menentukan langkah konkret yang akan diambil. “Yang jelas, kajian ini menjadi pijakan awal agar mitigasi bisa dilakukan lebih terarah dan berbasis data ilmiah,” tandasnya. (bas/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita