GUNUNGKIDUL – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul menyiapkan anggaran sebesar Rp 160 juta untuk memberi pakan kawanan monyet ekor panjang tahun ini.
Kebijakan ini sebagai salah satu upaya menekan serangan monyet ke lahan pertanian warga.
Pemberian pakan ini diproyeksikan selama sepuluh bulan ke depan dari Maret hingga Desember.
Kepala Bidang Konservasi dan Kerusakan Lingkungan DLH Gunungkidul Hana Kadaton Adinoto mengatakan, program ini merupakan solusi jangka pendek atas konflik antara manusia dan satwa liar yang masih kerap terjadi, terutama di wilayah selatan Gunungkidul.
“Kami sudah melakukan pemetaan lokasi sasaran. Pelaksanaan program masih di Kapanewon Tepus, meliputi Kalurahan Purwodadi, Tepus, Giripanggung, dan Sidoharjo,” ujarnya saat dihubungi Senin (2/2/2026).
Pakan yang diberikan berupa singkong, pepaya, dan pisang, dengan jumlah pasokan harian sekitar 45 kilogram singkong dan 18 sisir pisang.
Pemberian pakan dilakukan setiap hari dengan sistem sebaran bergantian di sejumlah titik yang telah ditentukan.
Anggaran tersebut tidak hanya digunakan untuk pembelian bahan pakan, tetapi juga mencakup upah petugas yang bertugas memberi makan monyet. Seluruh dana bersumber dari Dana Keistimewaan (Danais).
“Program ini kami jalankan selama sepuluh bulan karena anggarannya memang kami sesuaikan dengan kebutuhan di lapangan,” jelasnya.
Baca Juga: Setelah Mangkrak Bertahun-tahun, Kelengkapan Operasional Rusun Giripeni Segera Dipenuhi
Ia mengakui, pagu anggaran tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai sekitar Rp 200 juta.
Pengurangan tersebut merupakan imbas kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat.
“Meski anggarannya turun, kami berharap program ini tetap efektif menekan serangan monyet ke lahan pertanian warga,” terangnya.
Baca Juga: Trump Tanggapi Ancaman Khamenei soal Perang Regional: “Semoga Kita Bisa Capai Kesepakatan”
Sementara itu, Ulu-ulu Kalurahan Purwodadi, Tepus, Suroyo, mengatakan, keberadaan kawanan monyet masih menjadi ancaman serius bagi petani setempat.
Berbagai cara telah dilakukan warga untuk mengusir monyet, namun belum memberikan hasil maksimal.
“Warga sudah mencoba petasan sampai menunggu ladang sampai sore, tapi monyet tetap datang. Populasinya juga terus bertambah,” katanya.
Baca Juga: Pasca-Libur Nataru, BPS Sebut Kota Jogja Alami Deflasi Signifikan: Ini Penyumbang Utamaya..
Saat ini, tercatat sedikitnya 11 titik persembunyian monyet di Kalurahan Purwodadi. Kondisi tersebut membuat wilayah itu menjadi salah satu prioritas pelaksanaan program pemberian pakan.
“Harapan kami serangan monyet ke lahan pertanian bisa berkurang,” harapnya. (bas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita