GUNUNGKIDUL - Dishub Kabupaten Gunungkidul terus mematangkan upaya peningkatan konektivitas dan layanan transportasi publik antarwilayah.
Salah satunya melalui jalur Bus Perintis dengan trayek Terminal Giwangan-Pasar Trowono yang telah dirampungkan pada Januari ini.
Plt Kepala Seksi Angkutan Dishub Gunungkidul Reza Pahlevi menjelaskan, survei tersebut menjadi tahapan awal sebelum layanan bus perintis dioperasikan.
Jalur yang disurvei dimulai dari Terminal Giwangan, melintasi wilayah Kabupaten Bantul, kemudian memasuki Gunungkidul melalui Kapanewon Panggang, menyusuri Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS), dan berakhir di Pasar Trowono.
“Kami memastikan lintasan yang akan dilalui bus perintis aman, layak, dan sesuai kebutuhan masyarakat,” ujarnya Minggu, (1/2).
Sebagai tindak lanjut rencana operasional dishub juga merencanakan pemasangan rambu bus stop di kawasan Pasar Trowono. Rambu tersebut akan difungsikan sebagai titik naik-turun penumpang atau loading dan unloading.
Hasil survei jalur ini akan menjadi bahan evaluasi sekaligus koordinasi lintas instansi. “Layanan ini diharapkan menjadi solusi transportasi publik yang terjangkau, aman, dan berkelanjutan,” katanya.
Kepala Bidang Lalu Lintas Dishub Gunungkidul Raden Agus Hendro Kusumo menyampaikan, upaya peningkatan konektivitas juga dilakukan melalui program peningkatan infrastruktur sarana (PIS) dan peningkatan infrastruktur wilayah kecamatan (PIWK).
Program tersebut merupakan pembangunan berbasis wilayah untuk memperbaiki sarana perhubungan, seperti jalan, lampu penerangan, dan rambu lalu lintas.
“Program PIS dan PIWK diusulkan melalui musrenbang untuk mendukung konektivitas serta kebutuhan masyarakat desa secara spesifik,” jelasnya.
Untuk perencanaan Program PIS dan PIWK Tahun 2026, Dishub Gunungkidul telah melakukan survei lokasi di sejumlah kapanewon, yakni Purwosari, Saptosari, dan Girisubo.
Survei dilakukan melalui peninjauan langsung ke titik rencana kegiatan, pengumpulan data lapangan, serta koordinasi dengan pemerintah kapanewon, kalurahan, dan pemangku kepentingan setempat.
Menurut Agus, survei lokasi menjadi tahapan krusial agar perencanaan program benar-benar sesuai dengan kondisi riil wilayah dan kebutuhan masyarakat.
“Dengan data yang akurat, program yang dilaksanakan diharapkan tepat sasaran, efektif, dan memberikan manfaat berkelanjutan,” tandasnya. (bas/pra)
Editor : Heru Pratomo