GUNUNGKIDUL - Dinas Kelautan dan Perikanan DIY menginiasiasi kerja sama sistem penggerak kapal nelayan bertenaga listrik baterai nickel mangan cobalt dan pemanfaatan pengembangannya dalam bidang usaha perikanan. Kerja sama dilakukan Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA) UGM.
“Tantangan utama nelayan selama ini adalah tingginya biaya operasional. Khususnya untuk bahan bakar minyak (BBM),” ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY Hery Sulistio Hermawan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Sadeng Songbanyu, Girisubo, Gunungkidul, Jumat (30/1).
Dalam sekali melaut, terang Hery, BBM dapat menyumbang sekitar 30-40 persen dari total biaya operasional. Oleh karenanya, Hery menggandeng FMIPA UGM untuk merumuskan inovasi sistem penggerak kapal nelayan berbasis listrik. Itu dilakukan agar pendapatan nelayan bisa meningkat.
“Biaya transportasi atau BBM masih menjadi beban terbesar nelayan,” ujar Hery.
Selaras dengan itu, Hery menjadikan PPP Sadeng sebagai lokasi proyek percontohan pengembangan mesin listrik untuk kapal jungkong nelayan.
Program ini menjadi bagian dari upaya pemanfaatan energi terbarukan untuk menekan biaya operasional melaut.
“Sekaligus mendukung perikanan berkelanjutan,” papar mantan wakil kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY ini.
Dikatakan, pengembangan mesin listrik ini sejalan dengan arah kebijakan transisi energi nasional dari energi fosil ke energi terbarukan.
Selain menekan emisi gas rumah kaca, langkah ini memperkuat ketahanan energi di sektor kelautan dan perikanan.
Mesin listrik yang diuji coba memiliki daya 15 horse power (hp) dan menggunakan baterai jenis Nickel Mangan Cobalt (NMC). Total kapasitas baterai mencapai 16.000 watt hour (Wh).
Terdiri dari empat paket baterai. Setiap paket berkapasitas 4.000 Wh.
Mampu digunakan selama sekitar dua jam pelayaran. Menempuh jarak hingga 40 mil laut dengan kekuatan torsi mencapai 3.000 rpm.
Menurut Hery, penggunaan energi listrik berbasis baterai ini dapat menurunkan biaya operasional nelayan secara signifikan. Ke depan pengembangan energi terbarukan di Pelabuhan Sadeng juga diarahkan mendukung sistem navigasi.
Alat elektronik kapal, hingga pendinginan dan penyimpanan ikan di atas kapal.
Dengan energi listrik, nelayan tidak hanya untuk penggerak kapal. Tapi juga bisa untuk GPS, fish finder, hingga palka pendingin. “Ini akan membantu menjaga kualitas ikan tanpa harus membawa es dalam jumlah besar,” ujarnya.
Pantai Sadeng dipilih karena memiliki potensi besar. Ada sekitar 200 perahu motor tempel dan 40 kapal sekoci yang beroperasi.
Kawasan ini dinilai ideal sebagai laboratorium lapangan pengembangan teknologi perikanan berbasis energi terbarukan.
“Ini masih riset awal. Kami akan kembangkan dengan skala yang lebih ekonomis, menyesuaikan kebutuhan nelayan,” tambah Hery.
Pemda DIY, lanjut dia, akan berkomunikasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terkait kemungkinan skema subsidi mesin listrik bagi nelayan.
Menurut dia, subsidi akan lebih tepat sasaran jika diarahkan pada teknologi yang mampu menekan biaya operasional secara langsung.
“Kalau ini bisa didukung kebijakan pusat, termasuk subsidi, dampaknya sangat besar bagi kesejahteraan nelayan,” tegasnya.
Dekan FMIPA UGM Kuwat Triyana mengungkapkan, hasil kalkulasi awal menunjukkan penggunaan mesin listrik jauh lebih efisien dibandingkan mesin berbahan bakar fosil.
Berdasarkan perhitungan tim UGM, biaya melaut dengan BBM bisa mencapai sekitar Rp 160 ribu per hari. Sedangkan dengan mesin listrik,dari hasil modeling efisiensinya bisa mendekati 80 persen.
“Di samping hemat, teknologi ini juga ramah lingkungan,” ujar Kuwat.
Konversi mesin berbahan bakar fosil ke listrik berbasis baterai juga membuka peluang pengembangan karbon kredit.
Bila diterapkan secara luas, nelayan berpotensi mendapatkan manfaat tambahan dari perdagangan karbon. Dalam pengembangannya, lanjut Kuwat, mesin listrik ini dilengkapi dengan teknologi pendukung.
Di antaranya, seperti GPS untuk pelacakan kapal, sistem pelaporan hasil tangkapan berbasis digital, hingga penyimpanan hasil tangkapan berbasis cloud storage yang tetap mengandalkan pasokan energi listrik dari baterai.
Tukiman, nelayan Pantai Sadeng yang mengikuti uji coba menceritakan, performa mesin listrik cukup memuaskan. Dia berharap, mesin listrik bisa dibuat lebih ringan.
Semakin mudah dioperasikan agar sesuai dengan kondisi pelabuhan yang padat kapal dan tali tambat.
“Mesinnya lancar, kecepatannya sama dengan mesin BBM, tapi lebih irit. Cuma memang perlu penyesuaian, terutama di pengaturan maju-mundur karena pakai sensor,” ceritanya. (bas/kus)
Editor : Sevtia Eka Novarita