Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Belajar dari Banjir 2016, Kalurahan Pucung Kini Lebih Siaga Hadapi Bencana sejak Ditetapkan sebagai Katana

Yusuf Bastiar • Jumat, 30 Januari 2026 | 19:27 WIB
Salah satu warga Pucung sedang menunjukkan papan bertuliskan Kalurahan Tangguh Bencana di Kalurahan Pucung pada Jumat (30/1/2026).
Salah satu warga Pucung sedang menunjukkan papan bertuliskan Kalurahan Tangguh Bencana di Kalurahan Pucung pada Jumat (30/1/2026).
 
GUNUNGKIDUL - Penetapan Kalurahan Pucung, Kapanewon Girisubo, Gunungkidul, sebagai Kalurahan Tangguh Bencana (Katana) sejak 2022 membawa perubahan signifikan dalam kesiapsiagaan warga menghadapi ancaman bencana.
 
Berbekal penguatan kapasitas, pemetaan wilayah rawan, hingga kesiapan personel di tiap padukuhan, masyarakat kini lebih sigap merespons potensi banjir, longsor, maupun kekeringan yang kerap mengintai wilayah tersebut.
 
Carik Kalurahan Pucung Eko Sujarno mengatakan, langkah tersebut diambil menyusul kondisi wilayah yang rawan banjir dan longsor.
 
Baca Juga: GKR Hemas Soroti Minimnya Pemahaman Generasi Muda soal UUK, Dorong Disdikpora DIY Percepat Buku Keistimewaan untuk Pelajar
 
Saat ini, setiap padukuhan di Kalurahan Pucung memiliki tiga personel Katana, dengan total sekitar 30 personel aktif.
 
Mereka bertugas mulai dari pemantauan, asesmen awal, hingga koordinasi penanganan jika terjadi bencana.
 
Upaya pencegahan juga dilakukan secara rutin, terutama menjelang musim hujan. Salah satunya melalui normalisasi saluran air atau luweng yang menjadi jalur utama aliran air bawah tanah.
 
Baca Juga: Antisipasi Penularan PMK dari Luar Daerah, Pemkot Jogja Perekat Vaksinasi Ternak: Siapkan 120 Dosis untuk Vaksin Ternak Sapi dan Kambing
 
“Di musim kemarau, kami biasanya melakukan normalisasi saluran air dan luweng. Enam bulan sekali dibersihkan dari sampah plastik, kain, dan material lain. Ada juga yang dipasang jaring supaya sampah tidak masuk,” jelasnya saat ditemui di Balai Kalurahan Pucung Jumat (30/1/2026).
 
Selain penanganan banjir dan longsor, agenda tahunan Katana Pucung juga mencakup sosialisasi dan peningkatan kapasitas personel dalam menghadapi bencana lain seperti kekeringan dan potensi kelangkaan pangan.
 
Eko mengungkapkan, pengalaman banjir besar pada 2016 menjadi pelajaran penting bagi kalurahan.
 
Baca Juga: Dekat Pusat Kota Jogja tapi Belum Tersentuh Penataan Mundur Munggah Madhep Kali, Kampung Sayidan Menanti Perhatian Penataan
 
Saat itu, belasan rumah di tiga padukuhan terdampak, bahkan sejumlah barang milik warga hanyut terbawa arus.
 
“Sejak itu kami menganggarkan dana penanggulangan bencana tak terduga sebesar Rp 5 juta setiap tahun. Dana ini untuk kebutuhan darurat, seperti bahan makanan, selimut, alat kebersihan, hingga pemulihan pascabencana,” ujarnya.
 
Ia menambahkan, hujan dengan durasi panjang hingga 12 jam berpotensi menyebabkan banjir di beberapa titik.
 
Baca Juga: Persiba Bantul Tak Gentar Hadapi Persika Karanganyar, Lakoni Laga Krusial Delapan Besar Liga Nusantara di Stadion UNS
 
Meski demikian, pada kejadian hujan terakhir, dampaknya relatif ringan karena cuaca cepat membaik.
 
“Semalam ada satu rumah yang kemasukan air, tapi tidak parah. Peran kami langsung koordinasi, mulai dari asesmen, evaluasi, sampai penanganan,” tegas Eko.
 
Sementara itu Lurah Pucung Estu Dwiyono menilai, keberadaan Katana membawa perubahan positif terhadap kesadaran masyarakat dalam menghadapi bencana alam.
 
Setelah menjadi Kalurahan Tangguh Bencana, lanjut dia, masyarakat mulai peduli dengan pemetaan wilayah rawan.
 
Baca Juga: Masih Krisis Bek dan Harus Bertandang ke Markas Borneo FC, PSIM Jogja Andalkan Duet Bek Lokal
 
Ia menandainya dengan kesadaran warga Pucung yang selalu menjaga luweng. “Karena itu resapan air terbaik untuk menanggulangi banjir. Saat kekeringan, warga juga mulai membuat penampungan air,” ujarnya.
 
Namun demikian, Estu mengungkapkan masih ada persoalan kebencanaan nonalam yang belum menemukan solusi, yakni serangan hama monyet ekor panjang yang merusak tanaman warga.
 
“Ini sudah masuk ke permukiman dan sangat meresahkan petani. Bagi kami ini juga bencana, meskipun bukan bencana alam. Kami berharap ada peran serta pemerintah dan pihak terkait untuk penanganannya,” tegasnya.
 
Baca Juga: Jika Lolos Promosi Championship Musim Depan, Persiba Bantul Akan Lengkapi Syarat dari I.League 
 
Ia berharap dengan meningkatnya pemahaman kebencanaan, masyarakat Pucung semakin siap dan waspada menghadapi berbagai potensi bencana, baik alam maupun nonalam.
 
“Bencana bisa datang kapan saja. Harapannya, masyarakat sudah siap dan tidak panik ketika itu terjadi,” pungkasnya. (bas)
Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Kalurahan Pucung #katana #Gunungkidul #kalurahan tangguh bencana