GUNUNGKIDUL - Alun-alun Wonosari telah bersih dari aktivitas pedagang kaki lima (PKL), sebab mereka telah dipindah ke lokasi yang baru di Lapangan Tenis Taman Kuliner (Tamkul) dan mulai berjualan sejak Sabtu (24/1/2026) malam.
Meski begitu, relokasi ini belum menjamin pendapatan mereka. Sebab, kriteria pengunjung yang datang berbeda dengan di lokasi kawasan alaun-alun.
Eks PKL Alun-alun Wonosari yang berjualan cilung Suyanto mengaku, pendapatannya anjlok sejak berjualan di Lapangan Tenis Tamkul.
Ia menyebut, saat masih berjualan di alun-alun, penghasilan kotor per malam bisa mencapai Rp 200 ribu hingga Rp 250 ribu. Namun kini, pendapatan yang diperoleh jauh dari harapan.
“Di sini paling dapat Rp 50 ribu, itu pun masih hitungan kotor, belum untung. Buat muter modal lagi saja tidak ketemu,” keluhnya ditemui Radar Jogja di lapaknya Rabu (28/1/2026) sore.
Dia biasa berjualan mulai pukul 17.00 hingga 22.00. Selama lima hari berjualan di lokasi baru, ia mengklaim justru merugi.
Selain harus membangun pasar dari nol, faktor cuaca hujan juga turut memengaruhi sepinya pengunjung dalam beberapa hari terakhir.
“Kalau di alun-alun itu banyak pembeli dadakan, orang jalan-jalan terus kepengen jajan. Di sini lebih ke pelanggan tetap. Tiga hari jualan saya rugi, akhirnya sudah dua hari ini tidak jualan,” ujarnya.
Sementara itu, Koordinator Lapangan Pedagang Jajanan Ringan Taman Kuliner Wonosari Surino menyampaikan, para pedagang lama di kawasan tersebut pada prinsipnya tidak keberatan dengan kehadiran eks PKL Alun-alun Wonosari.
Menurutnya, relokasi merupakan kebijakan pemerintah yang harus disikapi bersama.
“Kalau pedagang di sini tidak keberatan sama sekali. Ini sudah direlokasi pemerintah dan kami terbuka,” tegasnya.
Surino menambahkan, sejak eks PKL Alun-alun Wonosari mulai berjualan di Lapangan Tenis Taman Kuliner pada Sabtu lalu, kondisi pengunjung masih tergolong normal. Belum terlihat lonjakan keramaian yang signifikan.
“Selama sepekan ini pengunjung biasa saja, stabil seperti hari-hari biasa. Belum ramai,” ujarnya. (bas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita