GUNUNGKIDUL - Fenomena sinkhole atau runtuhnya permukaan tanah secara tiba-tiba atau bertahap membentuk lubang raksasa, terjadi lagi di Gunungkidul. Sinkhole II kali ini di Padukuhan Ngelo, Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari.
Tanah ambles itu sebelumnya dipicu oleh hujan deras yang mengguyur wilayah selatan Gunungkidul. Akibatnya, lahan pertanian milik warga yang ditanami padi mengalami kerusakan. Padahal, padi tersebut digadang-gadang akan dipanen pada Februari mendatang.
Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kalurahan Kemadang Guntoyo menyebut, di lokasi amblasan lahan ditanami padi dan rumput kolonjono. Ia menyebut, potensi ambles susulan masih ada jika hujan lebat kembali terjadi dengan durasi lama.
"Yang kami khawatirkan, lubang bisa melebar atau semakin dalam. Kalau sampai ada yang terperosok, risikonya cukup besar,” ujarnya saat dikonfirmasi Kamis (22/1).
Ia menambahkan lokasi tanah ambles itu persis berada di wilayah Telogo Laran, bagian barat Kalurahan Kemadang. Menurutnya, lubang ambles tersebut cukup membahayakan. Sebab, diameter lubang bagian atas sekitar enam meter dengan kedalaman sekitar lima meter. "Namun kedalaman belum bisa dipastikan,” ujarnya.
Sebagai langkah awal, BPBD Gunungkidul bersama Tim Reaksi Cepat (TRC), pemerintah kalurahan, FPRB, Tagana, Babinsa, serta pemilik lahan telah melakukan asesmen di lokasi. Rencananya, petugas segera memasang papan peringatan agar warga tidak mendekati area berbahaya itu. "Kami pasang papan peringatan agar petani tidak mendekat ke lokasi amblasan,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul Edy Winarta menyampaikan, tanah ambles terjadi di lahan tanah kas desa (TKD) atau tanah lungguh yang selama ini dimanfaatkan untuk pertanian oleh warga.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. "Namun tanaman padi di area terdampak mengalami kerusakan,” jelasnya.
Lahan itu diketahui dikelola oleh Sutino, 52, yang juga menjabat dukuh setempat. Berdasarkan hasil asesmen awal BPBD, lubang ambles memiliki ukuran sekitar tiga meter x empat meter dengan kedalaman kurang lebih lima lima meter.
Faktor utama penyebab kejadian diduga akibat curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut. Kerugian akibat kejadian ini ditaksir sekitar Rp 1 juta. "Curah hujan deras membuat tanah di area tegalan menjadi jenuh air hingga akhirnya ambles atau jemblong,” terang Edy.
Sementara itu, BPBD mengimbau masyarakat, khususnya yang beraktivitas di sekitar lokasi, untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim hujan. "Jika ditemukan tanda-tanda retakan tanah atau penurunan permukaan tanah, segera laporkan ke pemerintah kalurahan atau BPBD,” tandas Edy. (bas/laz)