GUNUNGKIDUL - Hujan deras yang mengguyur wilayah selatan Gunungkidul memicu terjadinya tanah amblas atau sinkhole di Padukuhan Ngelo, Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari.
Akibatnya, lahan pertanian milik warga yang ditanami padi mengalami kerusakan.
Padahal, padi tersebut digadang-gadang akan dipanen pada Februari mendatang.
Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kalurahan Kemadang Guntoyo menyebut, di lokasi amblasan lahan ditanami padi dan rumput kolonjono.
Guntoyo menegaskan, potensi amblas susulan masih ada jika hujan lebat kembali terjadi dengan durasi lama.
“Yang kami khawatirkan, lubang bisa melebar atau semakin dalam. Kalau sampai ada yang terperosok, risikonya cukup besar,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Kamis, (22/1/2026).
Ia menambahkan bahwa lokasi tanah amblas persis berada di wilayah Telogo Laran, bagian barat Kalurahan Kemadang.
Menurutnya, lubang amblas tersebut cukup membahayakan.
Sebab, lanjut dia, diameter lubang bagian atas sekitar 6 meter dengan kedalaman diperkirakan mencapai 5 meter. “Namun, kedalaman pastinya belum bisa dipastikan,” ujarnya.
Sebagai langkah awal, BPBD Gunungkidul bersama Tim Reaksi Cepat (TRC), pemerintah kalurahan, FPRB, Tagana, Babinsa, serta pemilik lahan telah melakukan asesmen di lokasi.
Rencananya, petugas akan segera memasang papan peringatan agar warga tidak mendekati area berbahaya tersebut.
“Kami pasang papan peringatan, agar petani tidak mendekat ke lokasi amblasan,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul Edy Winarta menyampaikan, tanah amblas terjadi di lahan Tanah Kas Desa atau tanah lungguh yang selama ini dimanfaatkan untuk pertanian oleh warga.
Ia menyebut tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.
“Namun tanaman padi di area terdampak mengalami kerusakan,” jelasnya.
Lahan tersebut diketahui dikelola oleh Sutino (52), yang juga menjabat sebagai dukuh setempat.
Berdasarkan hasil asesmen awal BPBD, lubang amblas memiliki ukuran sekitar 3x4 meter dengan kedalaman kurang lebih 5 meter.
Faktor utama penyebab kejadian diduga kuat akibat curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut.
Kerugian akibat kejadian tersebut ditaksir mencapai sekitar Rp 1 juta.
“Curah hujan deras membuat tanah di area tegalan menjadi jenuh air hingga akhirnya ambles atau jemblong,” terang Edy.
Sementara itu, BPBD mengimbau masyarakat, khususnya yang beraktivitas di sekitar lokasi, untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim hujan.
“Jika ditemukan tanda-tanda retakan tanah atau penurunan permukaan tanah, segera laporkan ke pemerintah kalurahan atau BPBD,” pungkas Edy. (bas)
Editor : Meitika Candra Lantiva