Pemetaan detail amblesan menggunakan survei LiDAR dan geolistrik mendapatkan temuan awal. Diketahui, rongga bawah tanah kedalamannya diperkirakan mencapai 30 meter.
Penyelidik Bumi Ahli Pertama BPPTKG Ilham Nurdin menjelaskan, dua metode tersebut digunakan secara bersamaan untuk mendapatkan gambaran menyeluruh terkait sebaran dan dimensi sinkhole.
Survei geolistrik dilakukan dengan menginjeksikan arus listrik ke dalam tanah, kemudian menghitung beda potensial untuk mengetahui nilai resistivitas batuan bawah permukaan.
“Dari nilai resistivitas itu, kami bisa mengetahui jenis batuan dan kondisinya di bawah tanah. Ibaratnya seperti melakukan pemindaian ke dalam permukaan,” jelas Ilham kepada wartawan pada Selasa, (20/1/2026).
Sementara itu, kata dia, survei LiDAR memanfaatkan sinar laser untuk memetakan topografi secara rinci dengan menghilangkan pengaruh tutupan vegetasi.
Data tersebut memungkinkan pihaknya melihat bentuk permukaan tanah tanpa tertutup pepohonan. Sehingga, lanjutnya, struktur geologi, rekahan, maupun indikasi perkembangan sinkhole dapat teridentifikasi lebih jelas.
“Hasil dari geolistrik nanti kami dukung dengan data LiDAR. Selanjutnya akan kami susun kajian detail,” ujarnya.
Ilham menegaskan, data yang diperoleh saat ini masih bersifat awal. Hasil sementara tersebut belum dapat dijadikan acuan utama sebelum seluruh proses pengolahan dan analisis data selesai dilakukan dalam laporan komprehensif.
Temuan awal diungkapkan oleh Staf BPPTKG Raditya Putra. Berdasarkan data kasar, terdapat beberapa sinkhole dengan ukuran bervariasi, termasuk satu lubang besar di sebelah utara jalan dengan kedalaman diperkirakan mencapai 30 meter.
Lubang yang tampak di permukaan, khususnya di bawah salah satu rumah warga, kedalamannya sekitar lima meter.
“Yang terlihat di permukaan itu sebenarnya hanya bagian atasnya. Dari data geologi dan geofisika, di bawahnya masih ada rongga yang jauh lebih besar,” ujar Raditya.
Menurutnya, sinkhole signifikan teridentifikasi memanjang di poros jalan sepanjang kurang lebih 60 meter.
Di sisi selatan jalan, kondisi batuan relatif lebih stabil dan tidak ditemukan rongga besar. Sementara di sisi barat dan timur, tidak terdeteksi lubang yang signifikan.
“Kami tidak bisa mengecek langsung ke dalam rongga, tapi melalui profil geologi dan geofisika, indikasi lubang dalam itu cukup jelas,” imbuhnya.
Data hasil survei ini masih akan diolah lebih lanjut melalui interpretasi geologi dan geofisika sebelum diserahkan kepada BPBD DIY sebagai dasar rekomendasi penanganan.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Purwono menyampaikan, hasil sementara kajian geolistrik BPPTKG menunjukkan adanya rongga bawah tanah di kedalaman sekitar 13 meter dengan panjang sekitar 60 meter ke arah utara dan 20 meter ke arah timur dari titik amblesan.
“Amblesan yang tampak di permukaan berada tepat di bawah rumah dengan kedalaman sekitar lima meter. Di bawahnya masih terpantau rongga,” jelas Purwono.
BPPTKG, lanjut Purwono, juga memberikan saran awal penanganan dengan pengurugan menggunakan batu berukuran besar di bagian paling bawah.
Kemudian, semakin ke atas menggunakan batu yang lebih kecil agar aliran air tetap memungkinkan. Ia menegaskan, penutupan amblesan dengan tanah murni tidak disarankan karena berpotensi menimbulkan masalah baru.
“BPBD DIY sebagai pemohon kajian nanti yang menentukan langkah penanganan lanjutan di wilayah terdampak,” pungkasnya. (bas)
Editor : Bahana.