Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Musim Tikus Hantui Panen Kacang Tanah di Karangasem, Gunungkidul, Petani Pilih Tak Ganggu agar Bisa Panen

Yusuf Bastiar • Selasa, 20 Januari 2026 | 03:30 WIB

 

Wibakat dan Sumirat saat ditemui di lahanya yang terletak di kawasan Swaka Margasatwa, Paliyan, Gunungkidul.
Wibakat dan Sumirat saat ditemui di lahanya yang terletak di kawasan Swaka Margasatwa, Paliyan, Gunungkidul.
 
GUNUNGKIDUL - Musim hama tikus kembali menghantui panen kacang tanah di Karangasem, Paliyan, Gunungkidul. Di tengah serangan yang membuat sebagian petani gagal panen, Wibakat, 65, memilih cara tak lazim dengan tidak meracun atau memburu tikus, demi menjaga agar tanamannya tetap bisa dipanen.
 
Wibakat mengaku cukup beruntung pada musim panen kali ini. Dari lahan seluas sekitar 1.500 meter persegi, ia masih mampu memanen kacang tanah dalam jumlah relatif baik meski serangan tikus terjadi hampir di seluruh wilayah sekitar. 
 
Baca Juga: Selama Empat Jam, Eks Direktur PT Aneka Usaha Diperiksa Kejari Kebumen: Atas Dugaan Penyelewengan Tugas dan Fungsi Jabatan di BUMD Kebumen
 
“Awal saya tebar bibit 25 kilo. Alhamdulillah hasilnya masih bagus meskipun sekarang ini musim tikus,” ujar Wibakat saat ditemui di lahannya Senin (19/1).
 
Wibakat mengatakan, kerusakan tanaman di lahannya tidak terlalu parah. Berbeda dengan lahan milik petani di sebelahnya yang bahkan tak lagi dipanen karena hasilnya sangat minim. “Yang di sebelah kemarin cuma dapat lima kantong kresek plastik, padahal lahannya lebih luas. Itu karena diserang tikus,” tegasnya.
 
Dari lahan miliknya, Wibakat berhasil membawa pulang 11 karung kacang tanah. Setiap karung berisi sekitar 40 kilogram kacang dalam kondisi masih basah. Menurutnya, hasil tersebut sudah tergolong baik di tengah serangan hama yang meluas. Menariknya, Wibakat memilih tidak melakukan pengendalian tikus dengan racun atau perburuan.
 
Baca Juga: Dinkop UKM Akui Kurangnya Modal dan Kepercayaan Masyarakat Jadi Kendala Operasional KDMP Sleman
 
Ia justru membiarkan tikus-tikus tersebut tetap hidup. Keputusan itu diambil berdasarkan pengalaman panen sebelumnya. “Saya tidak ngobati tikus, tidak saya racun, tidak saya buru. Karena pengalaman dulu, kalau tikus diracun atau dibunuh, yang lainnya malah ngamuk,” ungkapnya.
 
Ia menyebut, dalam kondisi tertentu, serangan balasan tikus justru lebih parah. Dalam satu malam, lanjut dia, lahan miliknya bisa ludes sekali serangan. Karena itu, Wibakat memilih pendekatan batin. Setiap kali datang ke sawah, ia mengaku hanya bisa berdoa. “Saya batin, kalau mau makan ya sekedarnya saja. Saya juga yang nanam, yang ngerawat, dan punya kebutuhan hidup,” tuturnya.
 
Baca Juga: Demi Judol Nekat Gadaikan Truk, Residivis di Magelang Khianati Kepercayaan Juragannya
 
Pendekatan tersebut, menurut Wibakat, cukup manjur. Tikus memang tetap memakan tanaman, namun tidak sampai menghabiskan seluruh lahan. Meski demikian, kerusakan tetap terjadi. Tanaman jagung di bagian pinggir lahan miliknya habis dimakan tikus. “Kalau jagung sama ketela memang jadi sasaran. Tapi tetap saja, kalau apes ya bisa ludes,” terangnya.
 
Hal serupa dialami Sumirat, 62, petani asal Karangasem lainnya. Ia menyebut hama tikus masih menjadi ancaman utama, ditambah monyet dan landak. Menurutnya, pada siang hari, monyet kerap turun ke ladang. Ia mengaku, untuk mengatasi monyet ia harus berjaga di lahanya setiap hari dari pagi hingga petang menjelang magrib. 
 
“Yang paling mengerikan itu monyet. Pagi sampai sore monyet, malam tikus sama landak,” tegasnya.
 
Baca Juga: Pasca-Ambrol, Talut Sungai Buntung Ditangani Darurat dengan Bronjong: Penanganan Permanen Baru Bisa Tahun Depan
 
Meski demikian, Sumirat masih bisa panen meski tidak maksimal. Ia mengeluhkan satu petak lahan yang ia tanami kacang tanah telah ludes diserang monyet, landak dan tikus. Kendati demikian, beberapa petak lahan yang lain, kata dia, masih bisa dipanen. Ia mengaku harus menjaga lahannya hampir tiga bulan penuh sejak tanam hingga panen.
 
“Kalau tidak dijaga, ya habis, tidak kebagian apa-apa,” pungkasnya. (bas)
Editor : Sevtia Eka Novarita
#karangasem #hama tikus #Paliyan #Gunungkidul #Gagal Panen #panen #tikus #serangan #Petani