GUNUNGKIDUL - Puskesmas Semanu 1 rutin melakukan inspeksi kesehatan lingkungan terhadap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah kerjanya.
Langkah ini dilakukan sebagai upaya preventif untuk memastikan pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG) berjalan aman, higienis, dan sesuai standar kesehatan.
Kepala Puskesmas Semanu 1 Jumantoro mengatakan, inspeksi dilakukan secara berkala satu kali dalam sebulan di dua dapur SPPG yang sudah beroperasi.
Selain itu, inspeksi juga dilakukan secara insidental apabila ditemukan kasus atau laporan tertentu.
Hal itu dilakukan karena puskesmas menjadi rujukan pertama ketika terjadi masalah kesehatan pada siswa.
“Langkah pencegahan harus kami lakukan sejak awal. Inspeksi ini rutin kami lakukan satu bulan sekali untuk menekan kemungkinan kejadian luar biasa yang tidak diinginkan,” ujarnya saat ditemui di SPPG Semanu 1 Rabu (14/1/2026).
Inspeksi kesehatan lingkungan melibatkan petugas gizi, sanitasi, hingga kesehatan lingkungan.
Tim memeriksa berbagai aspek, di antaranya proses pengadaan bahan makanan, pemisahan bahan kering dan basah, alur keluar masuk bahan, hingga kepatuhan terhadap persyaratan yang telah ditetapkan dalam operasional SPPG.
“Kami juga melihat kondisi tenaga kerja, apakah ada yang sedang sakit, penggunaan alat pelindung diri, kebersihan dapur, serta proses memasak. Itu kami sesuaikan dengan jam inspeksi,” jelasnya.
Selain aspek fisik, pihak puskesmas juga mengecek sumber air yang digunakan, kerja sama penyediaan bahan, serta kelengkapan dokumen pendukung.
Hasil inspeksi menunjukkan, secara umum dapur SPPG di wilayah kerjanya telah memenuhi standar operasional prosedur.
“Secara fisik yang kami temui sejauh ini sudah sesuai SOP. Pemisahan bahan kering dan basah sudah dilakukan. Kami juga sempat memantau proses pengadaan bahan di pasar,” terangnya.
Baca Juga: Ujian bagi Ansyari Lubis, Tiga Laga Berat Menanti PSS Sleman selama Januari
Saat ini, terdapat tiga SPPG di wilayah kerja Puskesmas Semanu 1. Dua dapur sudah beroperasi, sementara satu lainnya masih dalam tahap proses persiapan.
Bahkan, sebelum perizinan resmi diterbitkan, pihak puskesmas telah melakukan pendampingan dan inspeksi awal.
“Kami sudah melakukan inspeksi sejak tahap awal, bahkan membantu dalam proses perizinan. Setelah berjalan, kami lakukan rutin sebulan sekali,” tegasnya.
Baca Juga: Basarnas Cilacap Turun Evakuasi Sopir Terjepit Kabin Truk, Butuh Waktu Dua Jam
Untuk memperkuat pengawasan, puskesmas juga masuk ke dalam grup WhatsApp koordinasi harian.
Melalui grup tersebut, pengelola SPPG wajib membagikan foto menu harian, nilai gizi, serta distribusi menu.
Keluhan dari sekolah, termasuk terkait siswa yang memiliki alergi atau tidak cocok dengan menu tertentu, juga disampaikan melalui kanal tersebut.
Baca Juga: Penjahit Taylor Street Jogja Kini Pindah ke Pasar Terban Seiring Penataan Trotoar Jalan Sardjito
Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul Ismono menegaskan, awalnya kegiatan inspeksi kesehatan lingkungan terhadap dapur SPPG ini dilakukan untuk kepentingan sertifikasi laik higiene sanitasi (SLHS).
“Kemudian kami lanjutkan secara rutin. Puskesmas juga masuk dalam grup koordinasi MBG di tingkat kapanewon,” tambahnya.
Menurutnya, keterlibatan aktif puskesmas sangat penting agar ketika terjadi persoalan kesehatan, penanganan dapat dilakukan dengan cepat dan tepat.
“Unit kesehatan harus siap bergerak cepat. Karena itu pengawasan dan koordinasi harus berjalan terus,” imbuhnya. (bas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita