GUNUNGKIDUL - Memasuki awal Januari 2026, sejumlah petani di Kabupaten Gunungkidul mulai memanen hasil pertanian. Salah satunya di Kalurahan Mulo, Kapanewon Wonosari.
Meski panen sudah dimulai, hasil kacang tanah belum sepenuhnya menggembirakan karena serangan hama uret. Sementara itu, komoditas jagung justru menunjukkan prospek lebih baik dan diprediksi memasuki panen raya akhir Januari hingga Februari 2026.
Baca Juga: Dijatah 450 Ton Sampah untuk PSEL, Sleman Targetkan Semua Kapanewon Miliki Transfer Depo pada 2027
Petani asal Kalurahan Mulo Wastini mengatakan, panen kacang tanah sudah mulai dilakukan sejak awal Januari. Namun, hasil panen kali ini dinilai kurang maksimal. “Awal Januari ini memang sudah mulai panen kacang tanah.
Tapi hasilnya kurang bagus karena ada hama uret, semacam kumbang kecil yang menyerang akar tanaman,” ujar Wastini saat ditemui di lahannya Rabu (7/1).
Ia menjelaskan, kacang tanah yang dipanen rencananya akan digunakan kembali sebagai benih. Setelah panen padi pada awal Februari mendatang, lahan tersebut akan ditanami kacang tanah dengan sistem tumpang sari bersama jagung.
“Kacang ini rencananya untuk bibit lagi. Tapi karena kena hama uret, hasilnya jadi kurang maksimal,” jelasnya.
Berbeda dengan kacang tanah, tanaman jagung miliknya justru tumbuh relatif baik. Saat ini sebagian jagung belum dipanen, baru diambil daunnya untuk pakan ternak. Buah jagung dibiarkan tetap di batang agar kering secara alami.
“Jagung saya ini lebih bagus hasilnya. Buahnya besar-besar dan tanamannya tumbuh maksimal. Kemungkinan dua minggu lagi sudah bisa dipanen,” ungkapnya.
Hasil panen jagung tersebut rencananya akan dijual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga. Wastini menambahkan, pada awal musim tanam sempat muncul kekhawatiran terkait ketersediaan air karena hujan belum stabil. Namun, kondisi tersebut berangsur membaik. Curah hujan yang kembali stabil disertai sinar matahari cukup membuat tanaman tumbuh optimal.
“Awal tanam itu sempat satu sampai dua minggu tidak hujan. Kalau benih sudah tumbuh tapi tidak ada hujan, bisa mati atau pertumbuhannya lambat,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Rismiyadi menyampaikan, Gunungkidul diprediksi mengalami panen raya jagung pada akhir Januari hingga Februari 2026. Hal ini didukung musim hujan yang relatif cukup, meski curah hujan pada Desember 2025 sempat menurun.
Ia menyebut, pada musim tanam pertama 2025/2026, luas tanam jagung mencapai 42.427 hektare yang tersebar di 18 kapanewon. “Dengan umur tanaman sekitar 90 hari, panen raya diperkirakan mulai akhir Januari hingga Februari 2026,” ujar Rismiyadi.
Ia menjelaskan, Dinas Pertanian dan Pangan telah menyalurkan bantuan benih jagung hibrida sebanyak 58,46 ton untuk luas lahan 5.846 hektare. Selain itu, penyaluran pupuk bersubsidi hingga Desember 2025 juga cukup tinggi.
Realisasi pupuk urea, menurutnya mencapai 11.727 ton atau 76,33 persen dari alokasi. Sedangkan NPK mencapai 11.742 ton atau 94,31 persen. “Harapannya ini mendukung produktivitas jagung petani,” jelasnya.
Rismiyadi menambahkan, sebagian wilayah bahkan sudah memulai panen lebih awal. Ia mencontohkan, di Kapanewon Ngawen, khususnya Kalurahan Sambirejo, panen jagung perdana telah dilakukan dengan luasan sekitar 20 hektare.
“Hasil ubinan mencapai 5,6 ton pipil kering per hektar dengan pola tanam monokultur. Ini cukup menggembirakan,” tandasnya. (bas)