GUNUNGKIDUL - Malam pergantian tahun di Kabupaten Gunungkidul diwarnai cuaca ekstrem. Hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang mengguyur wilayah ini dari sore hingga malam. Kondisi tersebut memicu sejumlah kejadian kebencanaan di beberapa kapanewon.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul mencatat, tiga kapanewon terdampak, yakni Rongkop, Wonosari, dan Paliyan. Selain itu, terdapat empat kalurahan yang mengalami dampak langsung, meliputi Karangwuni, Duwet, Melikan, dan Banjarharjo.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul Edy Winarta mengatakan, cuaca ekstrem pada malam tahun baru didominasi hujan lebat yang berlangsung cukup lama. Kondisi tersebut menyebabkan pohon tumbang serta gangguan pada akses jalan.
“Sebagian besar kejadian berupa pohon tumbang dan genangan air. Ada satu ruas jalan yang sempat terganggu, serta beberapa rumah warga terdampak,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Kamis (1/1).
Ia menyampaikan bawah dampak cuaca ekstrem tersebut meliputi 29 rumah terdampak, satu talud rumah mengalami kerusakan, satu ruas jalan terganggu, serta satu fasilitas ibadah berupa masjid terdampak.
Meski demikian, lanjut Edy, tidak ada laporan korban jiwa maupun warga luka-luka dalam peristiwa tersebut. “Dampaknya lebih kepada infrastruktur,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Purwono menyampaikan, perkiraan kerugian material akibat cuaca ekstrem ini mencapai sekitar Rp 15,8 juta.
BPBD juga telah berkoordinasi dengan pemerintah kalurahan dan kapanewon untuk memastikan kebutuhan warga terdampak dapat tertangani.
Di tengah cuaca ekstrem yang tak menentu, pihaknya mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan.
Warga diminta menghindari berteduh di bawah pohon besar serta waspada terhadap potensi longsor dan luapan air di wilayah rawan. “Soalnya mengingat potensi hujan lebat dan angin kencang masih dapat terjadi dalam beberapa waktu ke depan,” tutur Purwono. (bas/pra)
Editor : Heru Pratomo