Kegiatan tersebut merupakan bagian dari belanja pemeliharaan bangunan gedung tempat kerja berupa revitalisasi jalur evakuasi.
Berdasarkan papan informasi proyek, pekerjaan ini menelan anggaran sebesar Rp 94.451.000 yang bersumber dari APBD Gunungkidul tahun anggaran 2025.
Pelaksanaan pekerjaan dipercayakan kepada CV Elsa Nurega, kontraktor bangunan dan pengadaan barang yang beralamat di Kalurahan Beji, Kapanewon Patuk.
Masa pelaksanaan pekerjaan selama 21 hari kalender, dengan masa pemeliharaan 180 hari kalender, dan ditargetkan selesai pada 29 Desember.
Ketua Bidang Pencegahan, Kesiapsiagaan, Rehabilitasi, dan Rekonstruksi (PKRR) BPBD Gunungkidul Nanang Irawanto menjelaskan, pembangunan dan pemeliharaan jalur evakuasi tersebut merupakan langkah mitigasi bencana, khususnya tsunami, di kawasan pantai selatan yang memiliki tingkat risiko tinggi.
“Sinergi dilakukan dengan Kalurahan Kemadang, termasuk kawasan yang dikenal sebagai kampung tsunami. Salah satu fasilitas yang diperlukan adalah jalur evakuasi hingga titik terakhir evakuasi, termasuk tempat evakuasi sementara,” ujar Nanang saat ditemui di Wonosari pada Rabu, (23/12/2025).
Menurutnya, fasilitas yang dibangun bukan untuk pemantauan gelombang laut, melainkan murni sebagai sarana evakuasi masyarakat ketika terjadi kondisi darurat.
Di kawasan Watukodok dan Sanglen telah disiapkan satu titik evakuasi sementara yang dilengkapi fasilitas penunjang.
“Tempat evakuasi sementara ini menjadi penghubung sebelum warga diarahkan ke tempat evakuasi akhir. Sebelumnya, fasilitas serupa juga sudah dibangun di rest area pantai sepanjang dan difungsikan sebagai lokasi evakuasi sementara,” jelasnya.
Nanang menambahkan, BPBD Gunungkidul memiliki tugas memastikan jalur evakuasi tersedia di seluruh wilayah pantai yang berisiko tsunami.
Ke depan, jalur tersebut akan dilengkapi dengan petunjuk arah, papan informasi, serta rambu peringatan agar mudah dipahami masyarakat maupun wisatawan.
Sementara itu, Kepala BPBD Gunungkidul Purwono menegaskan bahwa sistem peringatan dini tsunami tetap mengacu pada informasi resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Jika ada informasi potensi tsunami dari BMKG, kami akan menyalakan sirine dan menyampaikan informasi mulai dari SAR hingga kalurahan agar siaga dan bersiap evakuasi. Jika potensi meningkat, evakuasi akan segera dilakukan,” ujarnya.
Purwono menambahkan, meskipun dalam satu tahun terakhir tidak terdapat tanda-tanda tsunami di kawasan Watukodok dan Sanglen, upaya mitigasi tetap harus dilakukan.
“Ini bagian dari upaya sedia payung sebelum hujan. Sistem dan fasilitas kami siapkan agar masyarakat lebih siap menghadapi kemungkinan terburuk,” tegasnya. (bas)
Editor : Bahana.