Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tak Berani Ambil Risiko, Petani Tadah Hujan Gunungkidul Andalkan Pupuk Kimia demi Panen Maksimal

Yusuf Bastiar • Rabu, 24 Desember 2025 | 03:02 WIB

 

Petani asal Kalurahan Karangasem Kapanewon Paliyan Gunungkidul Slamet Wijayanto sedang memberikan pupuk NPK dan Urea pada tanam jagung miliknya pada Selasa (23/12/2025).
Petani asal Kalurahan Karangasem Kapanewon Paliyan Gunungkidul Slamet Wijayanto sedang memberikan pupuk NPK dan Urea pada tanam jagung miliknya pada Selasa (23/12/2025).
 
GUNUNGKIDUL - Keterbatasan air dan tingginya risiko gagal panen membuat petani tadah hujan di Gunungkidul masih mengandalkan pupuk kimia untuk menjaga produktivitas tanaman.
 
Pupuk NPK dan urea menjadi tumpuan utama demi memastikan hasil panen tetap maksimal, khususnya pada komoditas jagung, kacang tanah, hingga padi gogoh yang menjadi andalan di lahan kering kawasan karst.
 
Petani asal Kalurahan Karangasem, Kapanewon Paliyan Slamet Wijayanto mengaku, tidak berani mengambil risiko dengan mengurangi pupuk kimia.
 
Baca Juga: Tidak Temukan Bahan Berbahaya dan Benda Mencurigakan, Polres Gununkidul Pastikan Seluruh Gereja Aman Sambut Natal 2025
 
Di lahan seluas satu hektare yang ia tanami jagung, pemupukan dilakukan dua kali dalam satu masa tanam.
 
“Pemupukan pertama saat tanaman mulai tumbuh, usia dua pekan sampai satu bulan. Saya pakai NPK dan urea untuk pertumbuhan. Pemupukan kedua juga sama, itu untuk pembuahan, supaya ukuran dan isian jagung maksimal,” ujarnya saat ditemui di lahannya pada Selasa pagi (23/12/2025).
 
Dalam sekali pemupukan, Slamet membutuhkan sekitar satu setengah kuintal pupuk campuran NPK dan urea dengan perbandingan satu banding satu.
 
Baca Juga: Sepakat! Ratusan Pelajar di Kulon Progo Ucapkan Deklarasi Anti Judol, Radikalisme, hingga Bullying
 
Dengan pola tersebut, hasil panen jagungnya bisa mencapai 2,5 ton per hektare. Dalam sistem pertanian tadah hujan khas Gunungkidul, Slamet juga menerapkan pola tumpang sari.
 
Saat jagung berumur tiga bulan, ia menanam kacang tanah di bawahnya, yang juga dipupuk dengan NPK dan urea.
 
“Kalau cuma pakai pupuk kandang, hasilnya nggak sampai segitu. Saya belum pernah coba, karena taruhannya panen. Kalau gagal, bisa pusing, nggak ada penghasilan,” ujarnya.
 
Baca Juga: Tanpa Yusaku, Rendra Teddy Kembali Bermain saat PSIM Jogja melawan Persijap Jepara
 
Tak hanya pupuk, Slamet juga mengandalkan pestisida kimia untuk mengendalikan gulma dan hama ulat.
 
Menurutnya, penggunaan pestisida kimia terbukti efektif menjaga pertumbuhan tanaman hingga panen.
 
Total modal yang dikeluarkan, termasuk pupuk dan pestisida, mencapai sekitar Rp 2 juta per musim tanam. Sementara pendapatan dari panen jagung bisa menembus Rp 12-14 juta.
 
Baca Juga: Sidang Pembacaan Dakwaan Tipikor: Belum Duduk di Kursi Terdakwa, Sidang Nadiem Anwar Makarim Kembali Mundur
 
“Penentu panen itu ya pemupukan dan pestisida. Kalau nggak dipupuk, pertumbuhannya lambat, buahnya kecil, panennya juga nggak maksimal,” tegasnya.
 
Di sisi lain, pemerintah kabupaten mencatat tren peningkatan serapan pupuk subsidi. Kepala Dinas Pertanian Gunungkidul Rismiyadi menyebut, hingga akhir tahun ini serapan pupuk NPK telah mencapai 10.549 ton dari kuota 13.251 ton atau sekitar 80 persen.
 
Sementara pupuk urea terserap 10.737 ton dari total alokasi 15.363 ton atau sekitar 70 persen.
 
Baca Juga: Akibat Medsos, Satu Pelajar di Kulon Progo Terpapar Radikalisme dan Terafiliasi ISIS
 
“Ini menunjukkan petani mulai beralih ke pemupukan berimbang sesuai rekomendasi teknis, tidak lagi hanya mengandalkan pupuk tunggal,” paparnya.
 
Rismiyadi menambahkan, meningkatnya serapan pupuk subsidi juga dipengaruhi kebijakan pemerintah pusat yang menurunkan harga pupuk subsidi secara nasional.
 
Kebijakan tersebut dinilai memperbaiki akses dan keterjangkauan pupuk bagi petani, terutama menjelang musim tanam.
 
Baca Juga: Pastikan Kelancaran dan Pelayanan Nataru, Ahmad Luthfi Tinjau Rest Area
 
“Penurunan harga pupuk subsidi sangat membantu petani. Pengawasan distribusi juga kami lakukan melalui sistem digital dan kelembagaan resmi agar tepat sasaran,” ujarnya.
 
Sementara itu, capaian sektor pertanian Gunungkidul sepanjang 2025 dinilai cukup menggembirakan.
 
Kepala Tim Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Sutopo mengungkapkan, total produksi padi hingga November 2025 mencapai 299.624 ton gabah kering giling (GKG), melampaui target RPJMD sebesar 291.000 ton.
 
Baca Juga: Lima Rekomendasi Penginapan Kaliurang Jogja untuk Staycation Akhir Tahun: Mulai 90 Ribuan!
 
Luas panen tercatat 55.576 hektare yang tersebar di 18 kapanewon. Produksi tertinggi terjadi pada subround pertama Januari-April dengan total 240.159 ton GKG.
 
Produktivitas juga meningkat signifikan pada subround kedua Mei-Agustus menjadi rata-rata 61,87 kuintal per hektare.
 
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan ketahanan pangan Gunungkidul berada dalam kondisi sangat kuat.
 
“Target RPJMD terlampaui. Selain itu, skor Pola Pangan Harapan Gunungkidul juga mencapai 98,41 persen, tertinggi di Jogjakarta,” jelasnya. (bas)
Editor : Winda Atika Ira Puspita
#RPJMD #Gunungkidul #Keterbatasan air #gkg #Gagal Panen #Petani Tadah Hujan #pupuk kimia