Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Hutan Adat Wonosadi Jadi Benteng Ekologis Gunungkidul, DLH Pastikan Tak Ada Aktivitas Penebangan Pohon

Yusuf Bastiar • Kamis, 4 Desember 2025 | 22:17 WIB

Warga Kalurahan Beji Kapanewon Ngawen sedang menanam pohon buah di kawasan hutan Wonosadi pada Rabu pagi (3/12)
Warga Kalurahan Beji Kapanewon Ngawen sedang menanam pohon buah di kawasan hutan Wonosadi pada Rabu pagi (3/12)
GUNUNGKIDUL - Hutan Adat Wonosadi di Kalurahan Beji, Kapanewon Ngawen, ditegaskan sebagai benteng ekologis penting bagi Gunungkidul.

Dinas Lingkungan Hidup memastikan tidak ditemukan aktivitas penebangan pohon maupun pembalakan liar di kawasan tersebut selama lima tahun terakhir.

Kawasan hutan adat ini terus dijaga ketat karena menjadi ruang konservasi, penyangga air, sekaligus habitat keanekaragaman hayati yang dilindungi.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul menegaskan komitmennya menjaga kelestarian Hutan Adat Wonosadi.

Kawasan konservasi dengan luas sekitar 25 hektar ini menjadi salah satu situs keanekaragaman hayati penting di Jawa dan memiliki perlindungan ketat sebagai hutan adat.

Kepala Bidang Konservasi dan Kerusakan Lahan DLH Gunungkidul Adinoto mengatakan, kerapatan vegetasi di Wonosadi masih terjaga baik, terutama pada area inti hutan adat.

Dari total luas kawasan, sekitar 2 hingga 3 hektare digunakan untuk penanaman buah-buahan sebagai bagian dari program ketahanan pangan warga.

“Hutan adat Wonosadi ini statusnya hutan keanekaragaman hayati, satu-satunya di Jawa yang mempertahankan konsep hutan adat.

Hampir seluruh area kami jaga sebagai hutan kayu, namun masih ada ruang yang dapat disisipkan tanaman buah untuk mendukung ketahanan pangan warga,” ujar Adinoto saat ditemui di ruang kerjanya pada Kamis, (4/12/2025).

Ia menegaskan bahwa dalam lima tahun terakhir tidak ditemukan tanda-tanda pembalakan atau penebangan liar di kawasan tersebut.

Desa dan masyarakat adat, kata dia, memiliki peran besar dalam pengawasan dan menjaga hutan tetap lestari.

Menurutnya hutan Wonosadi berada pada wilayah dataran tinggi yang berfungsi sebagai penyangga ekosistem lingkungan, terutama dalam penyerapan air dan penahan erosi.

Jenis pohon yang mendominasi kebanyakan adalah kayu keras yang memiliki daya ikat tanah tinggi.

Adinoto mencontohkan berbagai bencana banjir dan longsor di daerah lain yang dipicu oleh hilangnya tutupan hutan.

Situasi tersebut menjadi pelajaran penting agar Wonosadi tetap dipertahankan sebagai wilayah hijau yang tidak boleh diganggu.

“Kami sadar bahwa hilangnya hutan bisa memicu bencana seperti di Sumatera Barat dan Aceh. Karena itu Wonosadi masuk dalam RTRW sebagai kawasan hijau yang tidak boleh diutak-atik. Kerapatan hutan kami jaga betul,” tegasnya.

Selain fungsi ekologis, kawasan ini juga menjadi habitat flora dan fauna lokal yang bernilai konservasi.

Adinoto memastikan keberagaman hayati di dalam hutan menjadi fokus perlindungan jangka panjang.

Adinoto menyebut kekokohan Hutan Wonosadi tidak lepas dari peran masyarakat. Warga Beji memegang teguh aturan adat terkait larangan merusak atau menebang pohon sembarangan di dalam hutan.

Keyakinan mengenai karma bagi pelaku perusakan turut menjadi norma sosial yang menjaga hutan tetap utuh.

“Warga menjaga hutan dengan kearifan lokal. Kalau ada yang menebang pohon di hutan diyakini akan mendapat karma dan dikenai sanksi warga,” tutur Adinoto.

Kasus penebangan hanya terjadi pada pohon di pekarangan pribadi warga yang berada di sekitar hutan untuk kebutuhan pembangunan rumah atau pondok.

Hal itu berbeda dengan pembalakan liar yang sama sekali belum pernah ditemukan.

Sementara itu, upaya menjaga keberlanjutan Wonosadi juga dilakukan melalui penanaman aneka bibit pohon buah untuk menambah keanekaragaman flora.

Kepala DLH Gunungkidul Hary Sukmono menjelaskan, pengawasan akan terus dilakukan bersama masyarakat, dengan komitmen menjaga kerapatan pohon dan mencegah eksploitasi.

"Kemarin kami menanam bibit alpukat, jambu, dan srikaya masing-masing 50 batang. Dari DLH kami tambah bibit kepel, duwet, pete, dan belimbing wuluh. Ini untuk melestarikan hutan sekaligus memberi nilai ekonomi bagi warga saat berbuah kelak," imbuh Hary. (bas)

Editor : Bahana.
#wonosari #Gunungkidul #penebangan pohon