Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Inflasi Nataru Diprediksi Menguat, BPS Gunungkidul Sebut Kenaikan Masih Berada dalam Rentang Aman

Yusuf Bastiar • Rabu, 3 Desember 2025 | 15:35 WIB

 

 
Kepala BPS Gunungkidul sedang menunjukkan data inflasi pada libur Nataru tahun lalu.
Kepala BPS Gunungkidul sedang menunjukkan data inflasi pada libur Nataru tahun lalu.
 
GUNUNGKIDUL - Menjelang libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), Badan Pusat Statistik (BPS) Gunungkidul menyoroti potensi penguatan inflasi sebagai dampak meningkatnya konsumsi masyarakat. Meski demikian, BPS memastikan posisi inflasi daerah hingga saat ini masih dalam zona aman.
 
Kepala BPS Gunungkidul Joko Prayitno menyampaikan, inflasi tahun kalender hingga November 2025 berada pada level 2,17 persen, atau masih di dalam target nasional 1,5 sampai 3,5 persen.
 
“Kita masih aman di 2,17 persen. Masih di bawah angka tengah 2,5 persen dan masih punya satu bulan penentu, yaitu Desember,” sebut Joko saat ditemui di ruang kerjanya Selasa (2/12).
 
Baca Juga: Jeda Kompetisi Super League, Van Gastel Tak Pulang ke Belanda: Anak Saya Akan Datang ke Indonesia
 
Joko menjelaskan bahwa momen Nataru hampir selalu menimbulkan tekanan inflasi akibat naiknya permintaan terhadap sejumlah komoditas pangan, transportasi, hingga barang kebutuhan harian. Ia menyebut, naiknya harga kebutuhan konsumen saat Nataru dipicu kelangkaan barang. Kecuali, lanjut dia, pemerintah menyiapkan stok barang-barang yang biasa melonjak pada periode tersebut. 
 
“Tapi belum tentu angkanya, tergantung pergerakan harga bulan ini,” tambah Joko.
 
Baca Juga: Slemania Bangkit Lagi, Kumpulkan Balung Pisah hingga Rangkul Gen Z untuk Penuhi Tribun Utara MaglS
 
Ia mencontohkan bahwa pada Desember tahun lalu, inflasi mencapai 0,45 persen. Jika pola serupa terjadi, inflasi tahun kalender Gunungkidul diperkirakan akan berada di kisaran 2,6 persen, masih jauh di bawah batas maksimal target nasional. BPS juga mencatat bahwa kenaikan harga BBM pada November menjadi sinyal awal terbentuknya tekanan harga pada komoditas lain di Desember.
 
“Kenaikan BBM sudah terekam di November, ini bisa memengaruhi harga barang dan jasa di Desember,” ungkap Joko.
 
Baca Juga: GP Qatar Jadi Milik Verstappen, Pertarungan Juara Dunia Berlanjut ke Seri Terakhir
 
Meski begitu, ia menegaskan bahwa inflasi Gunungkidul masih terkendali dan jauh dari level mengkhawatirkan. “Trennya kita lihat apakah nanti di atas atau di bawah 0,31 persen. Namun secara umum masih aman,” imbuhnya.
 
Sementara itu, Statistisi Pertama BPS Gunungkidul Ardiyas Munsyianta menambahkan, bahwa selama 2025 ditandai dinamika inflasi-deflasi. Dari Januari hingga November, tercatat 6 bulan inflasi dan 5 bulan deflasi, terutama pada komoditas yang dipengaruhi subsidi.
 
Baca Juga: Sepanjang November, Sudah Ada 41 Kejadian Bencana di Gunungkidul, Mayoritas Tanah Longsor
 
“Subsidi listrik sempat membuat harga turun di awal tahun. Begitu dicabut, harga kembali normal sehingga tampak sebagai kenaikan. Pergerakan bulanan seperti ini yang membuat fluktuasi,” jelas Ardiyas.
 
Memasuki masa libur panjang Nataru, BPS mengimbau masyarakat untuk mencermati harga komoditas kebutuhan pokok, namun tidak perlu khawatir berlebihan. “Selama 11 bulan ini inflasi masih dalam rentang ideal. Kita lihat Desember sebagai penentu angka inflasi 2025, tetapi indikasinya masih baik,” tandas Joko. (bas)
Editor : Sevtia Eka Novarita
#nataru #Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 #inflasi #BPS Gunungkidul