Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kenaikan Harga Pangan Picu Inflasi di Kabupaten Gunungkidul hingga 2,63 Persen

Yusuf Bastiar • Selasa, 2 Desember 2025 | 14:30 WIB

 

AGENDA RUTIN: Kepala BPS Gunungkidul sedang memaparkan perkembangan indeks harga konsumen per November 2025 Senin (1/12).
AGENDA RUTIN: Kepala BPS Gunungkidul sedang memaparkan perkembangan indeks harga konsumen per November 2025 Senin (1/12).

GUNUNGKIDUL - Badan Pusat Statistik (BPS) Gunungkidul melaporkan terjadinya inflasi year on year (yoy) sebesar 2,63 persen pada November. Kenaikan tersebut mendorong indeks harga konsumen (IHK) dari 105,37 pada November 2024 menjadi 108,14 pada November 2025.

Kepala BPS Gunungkidul Joko Prayitno menyampaikan, inflasi tahunan ini dipicu oleh kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran. Terutama kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencatat inflasi tertinggi hingga 4,63 persen.

“Kontributor terbesar berasal dari komoditas emas perhiasan, beras, cabai merah, cabai rawit, daging ayam ras, serta biaya kontrak rumah,” bebernya saat ditemui Kantor BPS Gunungkidul Senin (1/12).

Kelompok pakaian dan alas kaki turut menyumbang 3,05 persen, serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,90 persen. Kemudian transportasi 0,98 persen, serta perlengkapan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 1,64 persen. Sementara itu, satu-satunya kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi adalah kesehatan. Dengan penurunan indeks sebesar 0,26 persen.

Selain inflasi tahunan, BPS Gunungkidul juga mencatat inflasi month to month (mtm) November 2025 sebesar 0,31 persen. Serta inflasi year to date (ydt) sebesar 2,17 persen.

Statistisi Pertama BPS Gunungkidul Ardiyas Munsyianta menjelaskan, secara bulanan, beberapa komoditas yang memberikan andil inflasi antara lain emas perhiasan, tomat, bawang merah, dan cabai-cabaian. Sementara komoditas yang menahan laju inflasi mtm meliputi daging ayam ras, tahu mentah, telur ayam ras, serta ikan lele.

Bulan lalu, sebagian besar kelompok pengeluaran memberikan andil inflasi yoy. Di antaranya makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,44 persen. Kemudian, pada sektor pakaian dan alas kaki menyumbang angka inflasi 0,13 persen. Sedangkan pada sektor tansportasi menyumbang inflasi pada angka 0,11 persen.

“Penyediaan makanan dan minuman/restoran juga menyumbangkan 0,10 persen, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,52 persen,” rincinya.

Di sisi lain, lanjut Ardiyas, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan tercatat stabil tanpa memberikan perubahan berarti. Mengacu infografis BPS, inflasi yoy Gunungkidul berada di bawah Kota Jogja yang mencapai 3,27 persen, namun sejalan dengan kecenderungan inflasi di wilayah DIY.

Namun, dinamika inflasi kali ini masih terkendali. “Meskipun tekanan harga pangan tetap menjadi faktor utama yang harus diwaspadai menjelang akhir tahun,” paparnya. (bas/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#kenaikan harga #Gunungkidul #Badan Pusat Statistik (BPS) #inflasi #pangan #Year on Year #BPS Gunungkidul