Di sisi utara, terutama di kawasan Nglipar kondisi justru berbanding terbalik. Petani asal Kalurahan Katongan Suminah, mengaku sejak puluhan tahun lalu, para petani di wilayah ini mampu menanam padi hingga tiga kali dalam setahun.
“Sejak saya lahir tahun 60-an, pertanian di sini memang sudah seperti ini. Bukan lahan kering, kami bertani di tanah basah, lahan berlumpur,” ujar Suminah saat ditemui di sawahnya pada Kamis, (27/11/2025).
Menurutnya, keberadaan sumber mata air yang mengalir sepanjang tahun menjadi kunci produktivitas pertanian warga.
Satu sumber air yang sama menghidupi sekitar 30 petani di wilayah tersebut. Bahkan saat kemarau, aliran air tak pernah benar-benar berhenti, meski debitnya menurun.
Kondisi itu tetap memungkinkan petani menanam, meski seringkali harus menyesuaikan jenis tanaman.
“Kalau kemarau panjang, kami sepakat tidak menanam padi karena airnya tidak cukup untuk semua. Jadi beralih tanam sayuran seperti cabai, tomat, atau sayuran lain supaya tetap ada pendapatan,” jelasnya.
Dengan tiga kali panen padi dalam setahun, Suminah mengaku kebutuhan pangan keluarganya tercukupi. Sebagian hasil panen disimpan sebagai cadangan beras untuk 3-4 bulan, dan sisanya dijual untuk memenuhi kebutuhan harian serta biaya pendidikan anak.
“Alhamdulillah, untuk makan kami tidak pernah beli beras. Dari hasil tani, dua anak saya bisa sekolah. Kalau hanya panen sekali setahun, pasti berat,” imbuh Suminah.
Meski produktivitas lahan tinggi, tantangan tetap mengemuka. Bibit dan pupuk, terutama pupuk subsidi, semakin sulit didapat dan harganya terus naik.
Kondisi itu mendorong para petani mencari cara agar tak bergantung sepenuhnya pada pasokan luar.
Hal senada disampaikan Lastri Retno. Para petani, kata dia, mulai berinisiatif membuat pupuk organik secara mandiri.
“Kita buat pupuk kandang untuk dasarannya, lalu ditambah pupuk kimia sedikit saja. Jadi penggunaan pupuk kimia berkurang banyak, dan modal juga lebih ringan,” ujarnya.
Untuk mengatasi kelangkaan benih, para petani mengembangkan pola seleksi benih dari panen pertama setiap tahun.
Benih berkualitas dipilih dan disiapkan untuk musim berikutnya, sehingga ketersediaannya tetap terjaga tanpa harus membeli.
“Dari panen musim pertama, kami pilih benih terbaik. Itu yang kita tanam lagi di musim kedua, dan begitu seterusnya. Jadi akhirnya kami bisa mandiri untuk benih,” jelas Lastri. (bas)
Editor : Bahana.