GUNUNGKIDUL - Upaya mengurangi potensi konflik antara warga dan satwa liar, khususnya Monyet Ekor Panjang (MEP), terus dilakukan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul.
Salah satu langkah terbaru adalah pendistribusian bibit tanaman pakan untuk memulihkan kembali habitat alami MEP sekaligus mengalihkan pergerakan satwa dari kawasan permukiman dan lahan pertanian masyarakat.
Kepala Bidang Konservasi dan Kerusakan Lahan DLH Gunungkidul Hana Kadanton Adinoto mengatakan, penanaman pohon tersebut menjadi intervensi awal untuk meminimalkan gangguan MEP di masa mendatang.
Melalui penyediaan vegetasi pakan yang cukup di habitatnya, diharapkan generasi mendatang tidak lagi menghadapi konflik berkepanjangan dengan satwa tersebut.
“Tujuannya untuk mengembalikan habitat MEP agar tidak terus masuk ke area pertanian dan permukiman. Harapannya, di masa depan konflik bisa ditekan semaksimal mungkin,” ujar Adinoto saat ditemui di ruang kerjanya pada Selasa sore, (25/11/2025).
Dalam pelaksanaan terbaru, DLH menyalurkan 328 bibit untuk Kalurahan Purwodadi. Secara keseluruhan, intervensi dilakukan di empat kalurahan di Kapanewon Tepus, yakni Purwodadi, Tepus, Sidoharjo, dan Giripanggung.
Keempat wilayah tersebut dipilih sebagai pilot project penanganan MEP di Gunungkidul. Jenis bibit yang diberikan meliputi beringin, jambu biji, belimbing wuluh, matoa, dan pete. Menurut Adinoto, seluruhnya merupakan jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan alami MEP.
“Penyaluran bibit tidak berfokus pada jumlah penerima, melainkan pada area prioritas. Tercatat delapan kawasan menjadi lokasi tanam pada tahap awal,” tegasnya.
Sebelumnya, DLH juga memberikan stimulus pakan berupa pisang dan ubi kayu yang didanai melalui Dana Keistimewaan (Danais). Upaya jangka pendek ini bertujuan mengurangi serangan MEP di lahan pertanian warga yang selama ini menjadi titik konflik utama.
Adinoto menambahkan bahwa bantuan yang disalurkan masih terbatas pada bibit tanaman, mengingat terbatasnya ketersediaan anggaran. Ia mengaku, tidak ada dukungan tambahan seperti pupuk atau sarana pengairan.
“Pemilihan waktu tanam juga diarahkan pada musim penghujan agar tingkat keberhasilan lebih tinggi,” imbuhnya.
Kendati demikian, ia menilai sejauh ini program penanaman pohon buah efektivitasnya belum terukur. Oleh karenanya, selain penanaman pohon, strategi jangka panjang DLH juga mencakup pengendalian populasi MEP melalui metode sterilisasi.
Upaya ini akan dilakukan dengan menggandeng lintas sektor, termasuk Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang memiliki kewenangan terhadap satwa tersebut.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Gunungkidul Hary Sukmono menyebut, program ini sebagai bentuk pelibatan aktif masyarakat dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Menurutnya, keberlanjutan lingkungan hanya dapat dicapai jika habitat satwa liar tetap terjaga, sehingga tidak keluar dari kawasan alaminya.
“Lahan pertanian warga menjadi lokasi intervensi utama,” jelas Hary. (bas)
Editor : Heru Pratomo