Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lebih Dekat dengan Tukiran Basir Ojek Pangkalan Yang Tetap Bertahan di Tengah Gempuran Digital, Meski Pendapatan Turun hingga 50 Persen

Yusuf Bastiar • Sabtu, 22 November 2025 | 05:15 WIB

 

ANTAR PELANGGAN: Tukiran sedang bersiap mengantar pulang pedagang Pasar Argosari yang berusia senja.
ANTAR PELANGGAN: Tukiran sedang bersiap mengantar pulang pedagang Pasar Argosari yang berusia senja.

GUNUNGKIDUL - Di bawah langit yang mulai berawan di Pasar Argosari Wonosari, deru motor milik Tukiran Basir terdengar konstan, menjadi denyut nadi kecil yang menjaga hidup ojek pangkalan di tengah arus modernisasi.

Di jok belakangnya, seorang perempuan sepuh duduk pelan-pelan, masker hijau menutupi garis-garis usia di wajahnya.

Pemandangan itu bukan hal baru. Ia adalah rutinitas sebuah potret sederhana tentang ojek pangkalan yang tetap setia melayani meski zaman bergerak cepat ke arah digital.

Tukiran menekuni profesi itu sejak medio 2000-an. Ia pernah merasakan masa keemasan ketika pasar menjadi pusat rezeki, saat ojek pangkalan menjadi tumpuan warga untuk bepergian.

Namun keadaan berubah sejak layanan ojek online meluas ke Wonosari. Jika dulu ia bisa membawa pulang Rp100 ribu per hari, kini Rp 50 ribu saja sudah terasa mewah.

“Turun pendapatan sampai 50 persen,” ujarnya sumringah saat ditemui di pos pangkalan ojek Pasar Argosari Jumat (21/11/2025).

Ia bertahan bukan karena tak ada pilihan. Pandemi 2020 memaksanya berhenti dari pekerjaan mengantar barang ke pasar setelah di-PHK.

Ojek pangkalan yang dulu sekadar sampingan kini menjadi tumpuan hidup.

Ia mengaku bisa saja pindah ke ojek online, tetapi ia lebih memikirkan para pelanggan setianya yang rata-rata sudah lanjut usia.

Selain itu, organisasi ojek pangkalan tempat ia bernaung, ojek lor pasar (OLP), memiliki prinsip teguh yakni anggota tidak boleh rangkap jalur. Hanya boleh memilih, pangkalan atau aplikasi.

Baca Juga: Reuni Final Liga 2 di Super League, PSIM Jogja dan Bhayangkara FC Siap Tarung Panas di SSA Bantul

“Kalau mau ikut online, silakan keluar dari organisasi. Tidak boleh mangkal di sini,” ujarnya.

Di tengah sebagian besar pengojek memilih hengkang, Tukiran justru menguatkan ikatan dengan pelanggannya.

Strateginya sederhana, namun penuh kehangatan emosional. Terutama kepada para pelajar yang kian terbiasa memesan melalui ponsel.

Ia memberi kelonggaran pembayaran, sebuah gestur yang tak mungkin ditemukan di aplikasi mana pun. Bahkan, ada pelanggan yang membayar sistem kontrak sebulan sekali.

“Bayar besok boleh, bulan depan juga tidak apa-apa,” ucapnya sambil tersenyum.

Kini, ia hanya mendapat lima hingga tujuh penumpang per hari. Dari sekitar 40 ojek yang dulu memenuhi pangkalan, tinggal 12 yang masih bertahan.

Meski begitu, organisasi tetap hidup. Mereka mengadakan pertemuan bulanan, menerapkan tarif tetap, dan menjaga kejujuran antaranggota.

“Kami jaga supaya pelanggan tidak merasa dibohongi,” jelasnya.

Menjelang sore, setelah pendapatannya hari itu menyentuh Rp 50 ribu, Tukiran bersiap menjemput istrinya yang bekerja di pasar.

Meski zaman berubah, ojek pangkalan tidak serta-merta hilang.

Ia bertahan di sudut Pasar Argosari bukan sebagai pilihan paling praktis, tetapi sebagai layanan yang mengutamakan rasa aman, kedekatan, dan kepercayaan.

Di tengah hiruk-pikuk pasar yang semakin dipenuhi layanan digital, Tukiran tetap menjadi satu dari sedikit wajah yang bertahan dengan cara paling lurus menyapa pelanggan, mengantar mereka pulang, dan merawat hubungan yang tak bisa dibangun oleh algoritma.

Di jok belakang motornya, selalu ada ruang bagi orang-orang yang percaya bahwa perjalanan paling aman adalah perjalanan bersama seseorang yang mengenal mereka, bukan sekadar menerima pesanan dari layar. (bas/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Bertahan #ojek pangkalan #Gunungkidul #lebih dekat #Gempuran Digital #Ojek Online