GUNUNGKIDUL - Potensi ekonomi lokal Gunungkidul terus dikembangkan. Saat ini, terdapat 21 sentra industri kecil menengah yang tersebar di wilayah satuan ruang strategis (SRS) Karst Gunungsewu, Gunungkidul. Totalnya lebih dari 1.441 IKM dan tenaga kerja sekitar 2.044 orang.
Dalam rangka meningkatkan daya saing dan kapasitas pengembangan IKM, terutama di wilayah SRS Karst Gunungsewu, Pemda DIY memberikan berbagai dukungan. Salah satunya, seperti sentra olahan coklat.
Selama 2024 dan 2025, melalui dana keistimewaan (danais), Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY menjalankan program revitalisasi IKM Sentra Olahan Coklat Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul.
Coklat Ngalanggran dipilih karena memiliki potensi besar. Baik dari segi bahan baku, sumber daya manusia (SDM), sarana produksi, maupun pasar. Biji kakao yang menjadi bahan baku utama cukup tersedia.
Sedikitnya ada 20 kelompok petani coklat di sekitar lokasi. Kemudian ada delapan kelompok IKM olahan coklat yang masing-masing beranggotakan sekitar 20 orang. Mereka telah memiliki rumah produksi bersama. Pasar olahan coklat di Nglanggeran sangat luas. Mencakup pasar domestik maupun ekspor.
Adapun delapan kelompok IKM itu meliputi Kelompok Omah Kakao, Doga, Nglanggeran, Kelompok Wanita Tani (KWT) Putri Kencana, Kawasan Embung Nglanggeran, dan Kelompok Griya Coklat, Nglanggeran Wetan.
Selanjutnya, Kelompok Ngudi Raharjo, Plosokerep, Bunder, Kelompok Bingkon, Nglegi, serta Kelompok IKM Sedyo Maju / KWT Ngudi Makmur, Senggotan, Ngoro-Oro. Berikutnya, Kelompok Sido Dadi, Gumawang, Putat dan Kelompok Sari Mulyo, Gambiran, Bunder.
Dibawah Paryanto yang menjadi ketua IKM Sari Mulyo, berhasil bertransformasi. Dari penjual biji kakao mentah menjadi produsen coklat dengan merek sendiri. “Itu tidak lepas dari peran Disperindag DIY yang aktif memberikan pembinaan dan pendampingan,” ucap Paryanto di rumah produksi Coklat Sari Mulyo kemarin (17/11).
Kelompok Sari Mulyo beranggotakan 20 orang petani. Mereka punya lebih dari seribu pohon kakao. Karena sudah bisa mengolah sendiri, para petani mendapatkan nilai tambah. Sari Mulyo sedang menyiapkan rumah coklat. Disiapkan menjadi pusat produksi dan ruang edukasi bagi wisatawan. Saat ini Sari Mulyo sudah memproduksi coklat dengan merek Dharko GUN-KID.
Dengan berbagai program pengembangan ini, diharapkan sentra coklat di Gunungkidul semakin berkembang. Mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional. Sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Bantuan dan pendampingan yang diberikan Disperindag DIY seperti peralatan dan ruang produksi, pelatihan diversifikasi produk, kemasan, pemasaran online. Ditambah sertifikasi merek kolektif, serta temu bisnis dengan PHRI.
“Itu semua sangat bermanfaat untuk pengembangan usaha. Terutama memperluas pemasaran dan meningkatkan penjualan,” kata Paryanto. Kini, omzet kelompok usahanya meningkat sebesar 40 persen.
Di sisi lain, Putri Harini dari KWT Putri Kencana juga mengungkapkan pembinaan dan pelatihan dari Disperindag DIY. Di antaranya, sertifikasi GMP, MD, dan marketplace internasional sangat bermanfaat untuk pengembangan usaha. Khususnya produk bersertifikat dan pengetahuan produksi. “Kami mengalami peningkatan usaha sebanyak 5 persen,” katanya. (bas/kus)
Editor : Herpri Kartun