GUNUNGKIDUL - Perjalanan panjang petani kakao di Padukuhan Gambiran, Kalurahan Bunder, Kapanewon Patuk Gunungkidul, membuahkan hasil besar bagi industri cokelat lokal.
Di bawah kepemimpinan Paryanto, Ketua Industri Kecil Menengah (IKM) Coklat Sari Mulyo, kelompok petani ini berhasil bertransformasi dari penjual biji kakao mentah menjadi produsen cokelat dengan merek sendiri.
Hasil ini tak lepas dari peran Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY yang melakukan pendampingan selama satu dekade.
Paryanto mengaku, pada 2004 petani kakao di Padukuhan Gambiran hanya mengandalkan penjualan biji kakao ke tengkulak dengan harga murah, sekitar Rp 15.000 per kilogram.
Pada fase awal hendak mengolah kakao menjadi cokelat, ia mengatakan banyak orang bilang bahwa mustahil bagi petani desa untuk sampai memproduksi cokelat.
Alasannya, kata dia alat mahal, proses rumit, dan modal yang tak sedikit. Namun, setelah dirinya bertemu dengan Disperindag DIY harapannya itu tercapai.
“Kami dulu hanya petani biasa,” ujar Paryanto saat ditemui di rumah produksi cokelat Sari Mulyo Senin (17/11/2025).
Tekad kuat membawa kelompok petani cokelat Sari Mulyo pada titik balik pada 2015 saat bertemu dengan seorang dosen ahli pangan Universitas Gadjah Mada.
Pertemuan itu mempertemukan kelompok tersebut dengan Disperindag DIY yang kemudian memberikan pendampingan lengkap.
Mulai dari dari hulu hingga hilir, termasuk pelatihan budi daya, teknik fermentasi, pengolahan biji kakao, penyediaan mesin produksi, pelatihan pengemasan, hingga strategi pemasaran.
“Pendampingan ini bukan hanya pelatihan sesaat. Setiap tahun ada monitoring, ada evaluasi, bahkan kami diminta memberikan masukan agar pendampingan lebih sesuai kebutuhan petani,” ujar Paryanto.
Ia menyebut pendampingan yang kini sudah berjalan 10 tahun tersebut melahirkan optimisme baru. Upaya itu membuahkan hasil.
Kelompok Sari Mulyo kini memproduksi cokelat dengan brand Dharko GUN-KID berkadar 63 persen kakao.
Mereka juga mendapatkan fasilitas sertifikasi halal serta sertifikasi kelayakan edar sehingga mampu menembus pasar yang lebih luas.
“Kami akhirnya percaya bahwa petani desa bisa bikin cokelat berkualitas dan memasarkannya,” tegasnya.
Paryanto menyebut, kelompoknya beranggotakan 20 petani dengan total 1.000 pohon kakao.
Setiap panen, kata dia, kelompok membeli biji kakao petani dengan harga di atas harga pasar.
Mereka juga menerima biji kakao fermentasi dengan harga lebih tinggi, sehingga pendapatan petani pun meningkat.
“Karena sudah bisa mengolah sendiri, nilai tambah itu kembali ke petani,” ujar Paryanto.
Ke depan, Sari Mulyo sedang menyiapkan Rumah Cokelat yang dibangun bersama pemerintah kalurahan melalui dana BUMKal.
Sentra ini ditargetkan menjadi pusat produksi sekaligus ruang edukasi bagi wisatawan dan pelaku usaha lain.
Pendampingan Disperindag DIY tidak hanya menyasar Padukuhan Gambiran.
Griya Cokelat Nglanggeran juga merasakan manfaat sejak mendapatkan pendampingan pada 2024.
Menurut Kepala Keuangan Griya Cokelat Surini menyampaikan, bantuan yang diberikan meliputi perbaikan tempat produksi, peralatan, hingga pelatihan pemasaran dan akses kerja sama dengan hotel.
“Kapasitas produksi kami meningkat signifikan. Contohnya kukis coklat, dari 500 kemasan menjadi 1.500 setelah mendapatkan oven baru,” jelas Surini.
Pada Oktober lalu, omzet usaha ini tercatat mencapai Rp73 juta perbulan.
Mereka kini memperluas pasar dengan mempersiapkan penjualan melalui platform Alibaba. Surini berharap pendampingan bagi IKM terus diperluas agar semakin banyak usaha kecil yang bisa tumbuh.
“Kami bisa maju berkembang karena pendampingan dari Disperindag DIY, kami ingin semakin maju bersama,” ujarnya. (bas)