GUNUNGKIDUL - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul menyoroti masih lemahnya perhatian pengelolaan sampah dan limbah di lingkungan SPPG.
Padahal instansi ini telah memberikan pelatihan tentan pengelolaan sampah dan limbah yang bersumber dari dapur makan bergizi gratis (MBG) kepada SPPG di wilayahnya.
Kabid Pengendalian Pencemaran dan Pengembangan Kapasitas DLH Gunungkidul Eko Suharso Pirhantoro mengatakan, pengelolaan limbah di lingkungan SPPG seharusnya menjadi perhatian serius.
Berdasarkan pemantauan, banyak dapur SPPG yang belum menerapkan pengelolaan sampah dan limbah secara benar.
Padahal, keberadaan sampah cair dan padat adalah titik paling riskan menimbulkan pencemaran dan gangguan kesehatan.
“Sebenarnya kami sudah memberikan pelatihan tentang pengelolaan sampah dan limbah di Hotel Santika pada 18-19 Oktober lalu. Tapi kelihatannya belum diperhatikan secara maksimal,” jelasnya saat ditemui di kantornya Kamis (13/11/2025).
Baca Juga: Jelang Nataru Gunungkidul Masih Andalkan Pantai, Siapkan Petugas Retribusi sejak Pukul 03.00
Eko menambahkan, setiap SPPG mestinya memiliki dokumen lingkungan sebagai dasar pengelolaan limbah cair dan padat.
Namun hingga kini, pihaknya belum menerima dokumen tersebut dari SPPG mana pun di Gunungkidul.
“Seharusnya ada dokumen lingkungannya. Kami juga dengar akan ada aturan baru dari Kementerian Lingkungan Hidup melalui Kepres tentang SOP pengelolaan SPPG. Tapi kami belum menerima salinan resminya,” imbuhnya.
Ketika ditanya terkait kebocoran limbah cair di dapur SPPG Playen 1, Eko menjawab pihaknya mendapat informasi soal pencemaran dari unggahan di media sosial.
Ia mengaku akan meninjau langsung ke lokasi dalam waktu dekat.
“Dari kami belum sempat ke lokasi karena masih ada kegiatan pelatihan pengelolaan sampah organik. Mungkin besok pagi kami ke sana,” ujarnya.
Senada, Kepala DLH Gunungkidul Hary Sukmono belum menerima laporan resmi terkait dugaan kebocoran limbah dari dapur SPPG Playen 1.
Namun, ia memastikan DLH akan segera turun untuk melakukan pengecekan lapangan.
Timnya akan melakukan pengecekan langsung bagaimana standar instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Mestinya, setiap dapur SPPG memiliki bak pengurai, bak kontrol, dan bak pembuangan.
“Kalau belum ada, tentu akan kami dorong untuk melengkapinya,” jelas Hary.
Ia menambahkan, pengelolaan limbah cair dan padat di SPPG perlu dipastikan berjalan sesuai standar agar tidak menimbulkan gangguan bagi warga sekitar.
“Kami juga mendampingi dalam hal pengelolaan limbah, supaya kebersihan tetap terjaga dan tidak menimbulkan keresahan di masyarakat,” tambahnya. (bas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita