Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Gunungkidul Siap Jadi Sentra Industri Singkong Kering Regional, Produksi 800 Ton per Tahun Perlu Diversifikasi Pengelolaan

Yusuf Bastiar • Kamis, 13 November 2025 | 02:28 WIB

 

Instalasi seni gaplek oleh Sanggar Oyod Ringing saat Festival Bedhidhig di Kalurahan Petir Kapanewon Rongkop September (13/9/2025) lalu .
Instalasi seni gaplek oleh Sanggar Oyod Ringing saat Festival Bedhidhig di Kalurahan Petir Kapanewon Rongkop September (13/9/2025) lalu .

GUNUNGKIDUL – Produksi singkong kering atau gaplek di Gunungkidul yang mencapai 800 ton setiap tahun menyimpan potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk turunan bernilai ekonomi tinggi.

Namun, potensi tersebut baru akan optimal jika diikuti dengan diversifikasi pengelolaan, agar pemanfaatan singkong tidak berhenti sebatas bahan mentah.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul Rismiyadi mengatakan, potensi tersebut didukung oleh luas lahan tanam singkong yang mencapai 40 ribu hektare.

Kapasitas ini, sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan industri maupun investor yang memerlukan bahan baku berbasis singkong.

Menurutnya masa panen dan ketersediaan gaplek di Gunungkidul berlangsung antara Juli hingga Oktober, di mana produksi dilakukan secara intensif oleh para petani. 

“Selama periode itu, pasokan gaplek melimpah dan siap diserap oleh industri pengolahan,” katanya.

 Baca Juga: Sediakan Layanan Kesehatan Sesuai Standar, DPUPKP Sleman Pastikan Pembangunan RSUD Sleman Dimulai 2026

Menanggapi potensi tersebut, Periset Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (PRTPP BRIN) Joko Susilo Utomo menilai, perlunya diversifikasi pengelolaan singkong agar tidak hanya berhenti pada bahan mentah.

Ia menyebut singkong bisa diolah menjadi tepung cassava flour maupun tepung mocaf modified cassava flour yang memiliki nilai ekonomi tinggi. 

“Pemanfaatan umbi singkong yang lebih luas peluangnya adalah berupa tepung,” jelas Joko.

 Baca Juga: Hasil Kendal Tornado FC vs PS Barito Putera, Laskar Antasari Ambil Alih Capolista Grup Timur

Menurutnya, tepung mocaf yang dihasilkan melalui proses fermentasi memiliki sejumlah keunggulan warna lebih putih, aroma netral, dan tekstur lebih halus.

Mocaf bahkan bisa menggantikan tepung terigu hingga 100 persen pada produk seperti kue kering, mi, serta hingga 50 persen pada produk kue basah.

Selain untuk pangan, Joko menyebut kandungan karbohidrat tinggi pada singkong juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan industri nonpangan, seperti pembuatan gula cair, bahan pengental, perekat tekstil dan kertas, hingga bioetanol.

Namun, ia mengingatkan pentingnya pengolahan yang aman karena singkong mengandung senyawa sianida (HCN).

 Baca Juga: Sembilan Ribu Warga Merapi di Magelang Nganggur Pascaoperasi Tambang Ilegal oleh Bareskrim Polri

“Singkong dengan kadar HCN di bawah 50 mg/kg aman dikonsumsi, sedangkan varietas pahit yang kadar HCN-nya lebih tinggi lebih cocok digunakan sebagai bahan baku industri,” terangnya.

Dengan potensi produksi yang besar dan dukungan riset dari BRIN, Gunungkidul dinilai memiliki peluang kuat untuk menjadi pusat pengembangan industri berbasis singkong di tingkat regional.

“Dengan pengolahan dan pemanfaatan yang tepat, singkong bisa menjadi sumber daya unggulan daerah yang memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi baru,” imbuhnya. (bas/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#sentra industri #Gunungkidul #BRIN #Gaplek #singkong