Gelombang tinggi dan angin laut kencang membuat aktivitas penangkapan lobster, komoditas utama musim ini tidak lagi aman dilakukan.
Hal ini dirasakan oleh nelayan Pantai Siung Kadek Purnomo. Ia menjelaskan bahwa kondisi perairan saat ini berpotensi membahayakan keselamatan nelayan.
Terlebih, area tangkap lobster berada di dekat gugusan karang tengah laut, lokasi yang membutuhkan ketepatan dan kewaspadaan tinggi.
“Gelombangnya tinggi, anginnya kencang. Sedangkan musimnya lobster itu area tangkapnya dekat karang. Kalau tidak jeli melihat situasi, kapal bisa terhempas dan menabrak karang. Itu sangat berbahaya,” ujarnya Kadek saat ditemui pada Senin, (10/11/2025).
Dalam kondisi normal, sekali melaut nelayan Pantai Siung menghabiskan modal sekitar Rp200–300 ribu untuk dua awak kapal, termasuk kebutuhan bahan bakar sekitar 10 liter.
Hasil tangkapan harian pada musim lobster bisa mencapai 10–20 kilogram per perjalanan. Namun cuaca ekstrem membuat aktivitas bahari ini terhenti.
“Mayoritas nelayan sudah dua minggu ini tidak melaut. Nanti kembali turun laut kalau situasinya membaik,” tambah Kadek.
Meski begitu, sebagian nelayan tetap memilih melaut karena tuntutan kebutuhan harian.
Pola penangkapan lobster dilakukan dengan menebar jaring atau krended pada sore hari, kemudian diambil keesokan paginya.
Sambil menunggu cuaca stabil, nelayan memanfaatkan waktu untuk memperbaiki kapal, mesin, dan perlengkapan lainnya agar siap digunakan kembali.
Musim lobster di wilayah selatan Gunungkidul diperkirakan berlangsung hingga pertengahan musim hujan.
Namun dinamika cuaca yang sulit diprediksi menjadi faktor pembatas bagi nelayan. Tidak hanya nelayan kapal yang terdampak. Warga pesisir yang menggantungkan penghasilan pada pemanfaatan hasil laut tepi pantai juga harus menyesuaikan diri.
Warga sekaligus pedagang di Pantai Siung Saido mengaku, mengandalkan pasang-surut untuk mencari kerang dan rumput laut.
“Karena cuacanya nggak begitu bagus, ya nunggu gelombang surut saja. Di pinggiran masih bisa ambil kerang atau beberapa jenis rumput laut,” ujarnya. (bas)
Editor : Bahana.