Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Inflasi Gunungkidul Capai 2,61 Persen di Oktober 2025, Didorong Kenaikan Harga Makanan dan Tembakau

Yusuf Bastiar • Senin, 3 November 2025 | 22:44 WIB

Kabupaten Gunungkidul mengalami inflasi sebesar 2,08 persen pada Bulan Juli 2024.
Kabupaten Gunungkidul mengalami inflasi sebesar 2,08 persen pada Bulan Juli 2024.
GUNUNGKIDUL - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Gunungkidul mencatat tingkat inflasi year on year (y-on-y) pada Oktober 2025 sebesar 2,61 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 107,81.

Angka ini menunjukkan adanya kenaikan dari IHK Oktober 2024 yang tercatat sebesar 105,07.

Statistisi Pertama BPS Gunungkidul Ardiyas Munsyianta menjelaskan, inflasi tahunan tersebut dipicu oleh kenaikan harga di seluruh kelompok pengeluaran, terutama pada kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mengalami inflasi tertinggi sebesar 4,48 persen, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 7,72 persen.

“Hampir seluruh kelompok pengeluaran mengalami kenaikan indeks,” ujar Ardiyas saat ditemui di Gedung BPS Gunungkidul pada Senin, (3/11/2025).

Menurutnya, kenaikan harga komoditas seperti cabai merah, beras, emas perhiasan, serta produk tembakau menjadi pendorong utama inflasi pada Oktober ini.

Selain dua kelompok tersebut, inflasi juga terjadi pada kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 3,10 persen, kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,88 persen, serta kelompok perlengkapan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 1,91 persen.

Sementara itu, kata dia, kelompok transportasi mencatat inflasi 0,98 persen dan pendidikan naik sebesar 1,46 persen.

“Adapun kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan hanya mencatat perubahan kecil sebesar 0,04 persen,” imbuhnya.

Kasubbag Umum BPS Gunungkidul, Retno Widiyanti menambahkan, inflasi month to month (m-to-m) pada Oktober 2025 tercatat sebesar 0,28 persen, sedangkan inflasi year to date (y-to-d) atau sejak Januari hingga Oktober 2025 mencapai 1,86 persen.

Ia menyebut, komoditas yang paling dominan memberi andil terhadap inflasi bulanan antara lain cabai merah, beras, dan emas perhiasan.

“Sementara beberapa komoditas seperti tomat, terong, dan bayam justru memberikan andil deflasi,” jelas Retno.

Berdasarkan pemantauan BPS, lanjut Retno, beberapa komoditas non-pangan seperti emas perhiasan dan biaya jasa perawatan pribadi juga memberi kontribusi cukup besar terhadap inflasi Oktober 2025.

Hal ini menunjukkan adanya pergerakan harga yang tidak hanya dipengaruhi kebutuhan pokok, tetapi juga kebutuhan sekunder masyarakat.

Ia menilai bahwa secara umum, kondisi inflasi Gunungkidul masih terkendali, meski tekanan harga pangan perlu tetap diwaspadai menjelang akhir tahun.

“Kecenderungan naiknya harga bahan pangan menjelang musim liburan dan perayaan akhir tahun perlu menjadi perhatian bersama, baik pemerintah daerah maupun pelaku pasar,” tutup Retno. (bas)

Editor : Bahana.
#inflasi #inflasi gunungkidul