GUNUNGKIDUL - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mendorong penguatan ketahanan pangan daerah melalui kolaborasi riset berbasis potensi lokal.
Salah satunya dilakukan bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul, dengan fokus pada pengembangan dan diversifikasi produk pangan dari komoditas unggulan daerah, khususnya beras merah varietas Segreng Handayani.
Periset Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN Heni Purwaningsih menjelaskan, selama ini beras merah Segreng Handayani banyak dimanfaatkan masyarakat Gunungkidul untuk konsumsi langsung atau bahkan pakan burung, tanpa pengolahan lebih lanjut.
Melalui riset kolaboratif, BRIN berupaya meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut agar dapat menjadi sumber pangan bergizi dan bernilai ekonomi tinggi.
“Kami telah melaksanakan seminar hasil kerja sama penelitian 2025. Riset kami menunjukkan bahwa beras merah Segreng Handayani memiliki potensi besar untuk diolah menjadi berbagai produk pangan sehat dan praktis,” jelas Heni saat dihubungi Minggu (2/11/2025).
Menurutnya, penelitian tersebut menghasilkan sejumlah inovasi olahan seperti beras instan, mi kremes, flake sereal, rengginang, dan cookies sehat.
Berdasarkan hasil uji proksimat dan bioaktif, produk olahan beras merah ini terbukti memiliki kandungan gizi makro dan mikro yang baik serta senyawa bioaktif yang berperan dalam pencegahan stunting.
“Salah satu hasil riset kami bahkan bisa dimanfaatkan sebagai alternatif pemberian makanan tambahan (PMT) bagi ibu hamil, menyusui, remaja putri, dan anak usia dini. Karena mengandung energi, protein, vitamin, mineral, serta antioksidan dalam bentuk olahan yang disukai,” jelasnya.
Sementara itu, Periset Pusat Riset Tanaman Pangan (PRTP) BRIN Kristamtini menyoroti pentingnya kemandirian benih padi lokal Segreng Handayani untuk mendukung keberlanjutan produksi pangan di Gunungkidul.
Baca Juga: Berhasil Sabet Juara 2 di MCR 2025, Siswa MTs Negeri 1 Kebumen Bawa Konsep Mobile Floating Farm
Ia menyebutkan, kebutuhan benih padi di daerah ini mencapai 224,03 ton per tahun, sementara ketersediaannya baru sekitar 15 ton.
Melalui pendekatan riset lapang, BRIN bersama tim mendorong pembentukan kelompok tani percontohan yang mampu memproduksi benih Segreng Handayani bersertifikat secara mandiri.
Menurutnya, hal ini perlu dilakukan, sebab sesuai dengan kondisi agroklimat khas Gunungkidul. Menurutnya, ini bukan sekadar program pertanian, tapi investasi jangka panjang bagi ketahanan pangan daerah.
“Gunungkidul harus bisa memenuhi kebutuhan benihnya sendiri,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bappeda Gunungkidul Arief Aldian menegaskan, kondisi geografis Gunungkidul yang didominasi lahan kars dan curah hujan tidak merata menuntut inovasi dan kolaborasi lintas sektor dalam menjaga ketersediaan dan keberlanjutan pangan.
Lebih jauh, Arief menilai bahwa pangan tradisional juga memiliki peran penting, bukan hanya sebagai identitas budaya tetapi juga strategi ketahanan pangan lokal.
“Contohnya kuliner khas seperti tiwul, gatot, dan wedang jahe yang memiliki nilai ekonomi, kesehatan, dan budaya tinggi,” jelasnya.
Sebagai bagian dari upaya pelestarian dan pemberdayaan ekonomi masyarakat,Pemkab Gunungkidul bekerja sama dengan Universitas Gunungkidul mengembangkan aplikasi digital “Peta Makanan Tradisional Gunungkidul”.
Aplikasi ini telah memetakan 67 pelaku usaha kuliner lokal guna memperkuat promosi wisata kuliner dan mendorong pemberdayaan UMKM sektor pangan tradisional.
“Kami ingin ketahanan pangan tidak hanya dipahami sebagai urusan produksi, tetapi juga sebagai ekosistem yang melibatkan budaya, ekonomi, dan inovasi teknologi,” pungkas Arief. (bas)
Editor : Winda Atika Ira Puspita