Ketua DPRD Gunungkidul Endang Sri Sumiyartini menyampaikan, daerahnya memiliki potensi besar di bidang pertanian, namun masih menghadapi tantangan struktural seperti keterbatasan air dan kondisi tanah kapur.
“Gunungkidul dikenal memiliki lahan kering yang luas dan keanekaragaman hayati tinggi,” ujar Endang kepada wartawan pada Minggu, (2/11/2025).
Melalui penerapan sistem pertanian terintegrasi, Endang menilai setiap potensi dapat dimanfaatkan secara optimal, efisien, dan berkelanjutan.
Konsep pertanian ini, lanjut dia, mampu menghubungkan berbagai subsektor mulai dari tanaman pangan, hortikultura, peternakan, perikanan, hingga pengolahan hasil dalam satu sistem terpadu. Model ini telah mulai diterapkan di sejumlah wilayah Gunungkidul.
Ia mencontohkan melalui integrasi antara tanaman dan peternakan, di mana kotoran ternak dimanfaatkan sebagai pupuk organik, sedangkan limbah pertanian diolah menjadi pakan ternak.
“Kami ingin memastikan bahwa seluruh sumber daya lokal dapat saling mendukung untuk meningkatkan kesejahteraan petani,” ujar Endang.
Selain itu, pemanfaatan embung atau kolam air juga dilakukan secara ganda, tidak hanya untuk irigasi tetapi juga untuk budidaya ikan.
Produk pertanian seperti singkong, jagung, dan kelapa diolah menjadi produk bernilai tambah seperti tepung, keripik, dan gula semut yang memperluas peluang ekonomi masyarakat desa.
Ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Gunungkidul Ery Agustin menegaskan, penerapan sistem pertanian terintegrasi tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dan menjaga kelestarian lingkungan.
Ia mengaku, pihaknya berkomitmen mendorong kebijakan dan anggaran daerah yang berpihak pada petani.
“Kami juga ingin memperkuat kemitraan dengan lembaga penelitian dan sektor swasta untuk mempercepat adopsi inovasi teknologi pertanian,” kata Ery. (bas)
Editor : Bahana.