Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dinkes Catat Ada 701 Korban Keracunan MBG di Gunungkidul, Dua Siswa Masih Opname

Herpri Kartun • Jumat, 31 Oktober 2025 | 04:34 WIB
RAMAI: Orang tua siswa SMPN 1 Saptosari sedang menunggu kepulangan anaknya di depan sekolahan, Kamis (30/10/2025).
RAMAI: Orang tua siswa SMPN 1 Saptosari sedang menunggu kepulangan anaknya di depan sekolahan, Kamis (30/10/2025).

GUNUNGKIDUL - Dugaan keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunungkidul, masih terus bertambah.

RSUD Saptosari mencatat total 45 pasien, terdiri atas dua orang dirawat inap, dua dalam observasi, dan 41 menjalani rawat jalan hingga Kamis siang (30/10/2025).

Direktur RSUD Saptosari Damayanti Mustikarini mengatakan jumlah pasien meningkat dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat 41 orang.

"Update terbaru per hari ini total ada 45 pasien. Ada tambahan siswa yang masuk pagi tadi empat orang,” ujarnya saat dihubungi Kamis siang (30/10/2025).

Empat pasien tambahan itu terdiri atas tiga siswa SMPN 1 Saptosari dan satu siswa SMKN 1 Saptosari. Menurut Damayanti, tambahan pasien itu datang ke rumah sakit pada Kamis pagi dengan keluhan serupa yakni mual, lemas, dan nyeri perut.

Selain siswa, terdapat juga dua guru SMPN 1 Saptosari yang mengalami keluhan serupa, namun tidak sampai menjalani pemeriksaan di RSUD.

"Kami terus melakukan pemeriksaan lanjutan untuk pemulihan kesehatan para siswa itu," ujarnya.

Sementara itu Kepala SMPN 1 Saptosari Emy Indarti membenarkan adanya tiga siswa yang kembali mengalami gejala serupa pada Kamis pagi.

Ia mengaku saat baru memulai kegiatan belajar, mendapati tiga siswanya yang mengeluhkan mual dan lemas. Sehingga ia langsung membawa siswa tersebut ke RSUD Saptosari.

“Satu di antaranya dirawat inap, sedangkan dua lainnya membaik dan sudah diperbolehkan pulang,” kata Emy.

Menurutnya, saat ini belum dapat dipastikan apakah keluhan terbaru itu masih berkaitan dengan dugaan keracunan MBG yang terjadi pada Selasa (28/10/2025). Ia menilai, perubahan cuaca ekstrem yang terjadi akhir-akhir ini bisa menjadi pemicu.

Baca Juga: Edukasi Satwa sejak Dini, Bhabinkamtibmas Wirobrajan Jogja Gandeng  Komunitas di TK-SD Kanisius

Ia mencontohkan, ada dua guru di sekolahnya juga mengeluh mual dan lemas, tapi sudah membaik tanpa harus ke RSUD. “Kami belum tahu apakah ini ada kaitannya dengan menu MBG kemarin atau tidak,” terangnya.

Meski ada tambahan siswa yang sakit, Emy menegaskan KBM di SMPN 1 Saptosari tetap berjalan normal. “Hari ini pembelajaran tetap berlangsung seperti biasa.

Siswa mengikuti kegiatan belajar dengan tertib, dan kami terus memantau kondisi kesehatan mereka,” tambahnya.

Diberitakan sebelumnya, dugaan keracunan makanan massal terjadi di Kapanewon Saptosari, Gunungkidul.

Ratusan siswa dari SMKN 1 Saptosari dan SMPN 1 Saptosari dilaporkan mengalami gejala mual, muntah, dan sakit perut usai menyantap menu MBG yang disuplai dari dapur Satuan Penyedia Pangan Gizi (SPPG) Planjan pada Selasa (28/10/2025).

Dinas Kesehatan Gunungkidul mencatat sedikitnya 695 siswa dari dua sekolah terdampak hingga Rabu sore (29/10/2025). Hingga Kamis terdapat tambahan empat siswa dan dua guru yang diduga mengalami keracunan menu MBG. Total korban dugaan keracunan MBG di Saptosari mencapai 701 korban.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul Ismono menyebut dapur SPPG Planjan yang menjadi pemasok menu MBG untuk beberapa sekolah di wilayah Saptosari, belum memiliki sertifikasi higienis atau Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) yang diterbitkan oleh Dinas Kesehatan Gunungkidul.

Kemudian dinas kesehatan bersama tim lapangan juga telah melakukan pengambilan sampel makanan, feses, dan muntahan dari para siswa pada Rabu (29/10/2025).

Sampel itu akan dikirim ke laboratorium sebagai bahan penyelidikan penyebab pasti kejadian ini.

"SPPG di Planjan ini memang belum memiliki sertifikasi higienis. Atas kejadian ini, BGN sudah memberikan surat ke pihak SPPG untuk dihentikan sementara operasionalnya," tegasnya. (bas/laz)

 

Editor : Herpri Kartun