GUNUNGKIDUL – Turunnya hujan di wilayah Gunungkidul menjadi pertanda dimulainya musim tanam bagi petani.
Bagi mereka, hujan bukan sekadar pergantian musim, tetapi sumber kehidupan sekaligus harapan untuk bertahan hingga panen tiba.
Petani asal Kalurahan Banaran, Kapanewon Playen, Sugeng mengaku seluruh aktivitas pertaniannya sepenuhnya bergantung pada curah hujan.
Di wilayahnya, tak ada sistem irigasi atau sumber air yang bisa dimanfaatkan untuk mengairi sawah.
“Modal kami ya cuma hujan. Kalau tidak ada hujan, ya tidak bisa bertani,” ujar Sugeng saat ditemui di lahan pertaniannya yang berada di Kalurahan Getas Playen Rabu (29/10/2025).
Berbeda dengan wilayah lain seperti Karangmojo yang memiliki sumber air permanen dan bisa panen hingga tiga kali setahun, petani di Playen hanya bisa mengandalkan satu kali panen.
Karena itu, datangnya hujan selalu menjadi momen paling ditunggu agar hasil panen bisa maksimal.
“Kami berharap sekali dengan datangnya hujan ini bisa panen melimpah, tidak gagal. Karena kalau panennya tidak maksimal, kami bingung mau makan apa. Setahun cuma bisa tanam sekali,” jelasnya.
Lahan terbatas membuat Sugeng menerapkan sistem tumpang sari dengan menanam padi, jagung, dan kacang tanah dalam satu area. Hasil panen padi biasanya ia simpan untuk konsumsi keluarga.
Namun stok sering kali tidak mencukupi hingga musim berikutnya. Sehingga ia harus membeli tambahan dari hasil penjualan jagung dan kacang.
“Kalau yang dijual itu kacang sama jagung. Hasilnya untuk biaya sehari-hari, beli lauk, dan kebutuhan anak sekolah,” terangnya.
Sementara itu, petani lain dari wilayah yang sama Wignyo Nugroho juga menyambut musim hujan dengan harapan serupa.
Ia mengaku mulai menanam kembali setelah hujan turun hampir setiap hari selama sepekan terakhir.
Meski di wilayahnya relatif aman dari gangguan hama monyet seperti yang sering dialami petani di daerah pesisir, ancaman lain tetap ada.
Wereng kerap menyerang tanaman padi, sementara lalat dan ulat bulu mengganggu tanaman kacang dan jagung.
“Begitu hujan rutin, kami langsung mulai menebar benih. Karena kalau sudah lembap dan basah terus, benihnya bisa tumbuh tanpa mati,” ungkapnya. (bas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita