Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Diduga Penyebab Keracunan Masal di Saptosari, SPPG Plajan Beroperasi tanpa SLHS

Yusuf Bastiar • Kamis, 30 Oktober 2025 | 01:06 WIB

 

Situasi ruang perawatan di Puskesmas Saptosari pada Rabu (29/10).   
Situasi ruang perawatan di Puskesmas Saptosari pada Rabu (29/10).  

 

Ketegasan menertibkan satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang belum melengkapi persyaratan teknis dipertanyakan. Keracunan masal terhadap sekitar 695 siswa SMPN 1 Saptosari dan SMKN Saptosari diduga berasal dari menu MBG dari SPPG Plajan yang belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

Hal itu dikonfirmasi langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul Ismono. Dalam penelusuran lebih lanjut, Ismono menyebut dapur SPPG Planjan yang menjadi pemasok menu MBG untuk beberapa sekolah di wilayah Saptosari, belum memiliki sertifikasi higienis atau SLHS yang diterbitkan oleh Dinkes Gunungkidul.

“SPPG di Planjan ini memang belum memiliki sertifikasi higienis. Atas kejadian ini, BGN sudah memberikan surat ke pihak SPPG untuk dihentikan sementara operasionalnya,” tegasnya, Rabu (29/10).

Dinkes bersama tim lapangan juga telah melakukan pengambilan sampel makanan, feses, dan muntahan dari para siswa untuk dikirim ke laboratorium sebagai bahan penyelidikan penyebab pasti kejadian ini.

Dinkes mencatat sedikitnya 695 siswa dari dua sekolah tersebut diduga terdampak hingga Rabu sore  (29/10). Beberapa di antaranya mendapatkan perawatan medis di Puskesmas dan RSUD Saptosari, sementara ratusan siswa lainnya dipulangkan untuk pemulihan di rumah.

Kejadian bermula saat siswa SMPN 1 dan SMKN 1 Saptosari menyantap menu MBG pada Selasa (28/10). Sejak malam hingga keesokan harinya, sejumlah siswa mulai mengeluhkan gejala seperti mual dan pusing, yang kemudian berkembang menjadi kasus dugaan keracunan massal.

Hasil pendataan awal Dinkes Gunungkidul menunjukkan, dari total 1.154 murid SMKN 1 Saptosari, ada 476 siswa dan 10 guru yang diduga terdampak keracunan MBG. Ia menyebut ratusan siswa SMKN 1 Saptosari mengalami gejala yang mengarah pada keracunan makanan.

Selain itu, terdapat 33 siswa yang izin tidak masuk sekolah pada hari ini karena masih mengalami keluhan kesehatan. “Sebagian besar, mengalami sakit perut hingga muntah-muntah, bahkan beberapa mendapatkan perawatan medis,” ujar.

Selain dari SMKN Saptosari, Ismono menyebut Dinas Kesehatan juga mencatat kejadian serupa di SMPN 1 Saptosari. Dari total 420 siswa, sebanyak 186 siswa mengalami keluhan serupa dan telah menjalani pemeriksaan di fasilitas kesehatan.

“Kami juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan serta kepala sekolah untuk melakukan pendataan secara menyeluruh,” kata Ismono.

Sementara itu, Kepala sekolah SMK Negeri  Saptosari Markidin Parikesit, menyampaikan keprihatinannya atas kejadian tersebut. Ia mengaku telah memulangkan lebih dari 400 siswa karena mengalami keluhan serupa.

Ia berharap, program MBG di sekolahnya agar dihentikan sementara dulu sampai hasil uji laboratorium keluar. “Kesehatan siswa sangat berpengaruh pada proses pembelajaran,” kata Markidin.

 

Ia menambahkan, aktivitas belajar hari ini sempat terganggu karena banyak siswa keluar masuk kelas untuk ke toilet maupun ke UKS. Menurutnya, penghentian sementara distribusi MBG adalah langkah paling bijak agar siswa dan orang tua tidak diliputi kekhawatiran.

“Sampai semua jelas dari hasil analisis atau uji lab, ini berdampak terhadap kegiatan belajar. Jadi harapannya lebih baik distop dulu sampai semuanya jelas,” tegasnya. (bas/pra)

Editor : Heru Pratomo
#keracunan mbg #dinkes #Gunungkidul #SMKN #SMPN 1 #SLHS #SPPG #Saptosari