GUNUNGKIDUL - Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul berhasil meningkatkan penemuan kasus Tuberkulosis (TBC) secara signifikan dalam dua tahun terakhir. Lewat metode Active Case Finding (ACF), efektif menjangkau kelompok berisiko tinggi yang sebelumnya belum terdeteksi.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Gunungkidul Sidig Hery Sukoco mengatakan, pada 2024, ACF telah dilaksanakan dalam tiga tahap dengan total sasaran sebanyak 5.300 orang. Sementara tahun ini, kegiatan serupa kembali dilakukan di 30 puskesmas dengan target 3.000 peserta. “Dimulai pada 22 April hingga 12 Juni, dan berlanjut sepanjang September,” bebernya.
Menurutnya langkah ini diambil untuk menemukan kasus baru, memperluas cakupan pengobatan, serta mencegah penularan TBC di masyarakat. “Dengan cara ini, kasus dapat ditemukan lebih cepat dan penularan dapat ditekan,” sebutnya.
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Zoonosis (P2PMZ) Dinkes Gunungkidul Yuyun Ika Pratiwi menjelaskan, pihaknya telah mencatat, pelaksanaan ACF sejak 2023 menunjukkan tren peningkatan signifikan. Dia mengungkapkan, penemuan kasus TBC naik 11,4 persen pada 2023 dan meningkat lagi menjadi 19 persen pada 2024.
Baginya, metode ACF merupakan bentuk penemuan kasus aktif yang melengkapi mekanisme penemuan pasif di fasilitas kesehatan.
“Biasanya pasien datang ke puskesmas karena bergejala. Namun, masih banyak masyarakat berisiko tinggi yang tidak memeriksakan diri,” beber Yuyun. (bas/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita