Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pendapatan Asli Daerah Sektor Wisata Gunungkidul Baru Capai Rp 20 Miliar, Cuaca Ekstrem dan Larangan Study Tour Jadi Kendala

Yusuf Bastiar • Kamis, 23 Oktober 2025 | 01:39 WIB

 

Kondisi Pantai Watu Kodok masih cenderung ramai di akhir pekan lalu pada Minggu (19/10/2025).
Kondisi Pantai Watu Kodok masih cenderung ramai di akhir pekan lalu pada Minggu (19/10/2025).

GUNUNGKIDUL - Capaian pendapatan asli daerah (PAD) sektor pariwisata Kabupaten Gunungkidul baru mencapai Rp 20 miliar hingga akhir September 2025.

Dari target tahun ini sebesar Rp 33,5 miliar. Dinas Pariwisata (Dispar) Gunungkidul tetap optimistis mampu mendekati target di sisa waktu tahun berjalan.

Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Dispar Gunungkidul Supriyanta tidak menampik, pencapaian tahun ini mengalami tekanan cukup berat dibanding tahun sebelumnya.

Sejumlah faktor eksternal berperan besar dalam menurunkan capaian PAD wisata daerah.

“Harus optimis meskipun sejujurnya, ya, berat. Semoga dapat mencapai target,” ujar Supriyanta saat ditemui di Gedung DPRD Gunungkidul Rabu (22/10/2025) sore.

Dia menyebut, salah satu faktor penurunan disebabkan karena sebagian besar destinasi wisata di wilayahnya hampir semua berbasis alam.

Sehingga, cuaca ekstrem sejak awal Oktober sangat berpengaruh terhadap kunjungan.

 Baca Juga: Dulu Mati Suri, Kini Bangkit Lagi: Festival Loakarta Dongkrak Ribuan Pengunjung Pasar Pakuncen, Jumlah Kunjungan dan Omzet Pedagang Naik 10 Kali Lipat

Ditambah lagi, ada kebijakan larangan study tour di beberapa daerah yang berdampak langsung pada kunjungan wisatawan pelajar.

Ia mengaku, wisatawan asal Jawa Barat menempati urutan ketiga terbesar yang berkunjung ke Gunungkidul.

Namun, sejak daerah tersebut menerapkan larangan kegiatan studi wisata sekolah, kunjungan wisatawan ke Gunungkidul mengalami penurunan.

“Dampaknya cukup besar karena wisata rombongan pelajar itu selama ini menjadi salah satu pasar utama kunjungan,” jelasnya.

 Baca Juga: Waspada! Cuaca Ekstrem Berpotensi Datang Tiba-tiba, BMG Yogyakarta Imbau Masyarakat Waspada Bencana Hidrometeorologi

Selain itu, tantangan lain datang dari kondisi infrastruktur penunjang yang belum merata dan daya beli masyarakat yang masih lemah.

Kendati beberapa kawasan wisata seperti Baron, Krakal, dan Drini ramai pengujung, namun belum ada penambahan destinasi baru yang mampu menarik lonjakan wisatawan secara signifikan.

“Wisatawan sekarang cenderung mencari sesuatu yang baru. Kalau belum ada destinasi tambahan atau inovasi, tentu ini menjadi tantangan tersendiri,” terangnya.

 Baca Juga: Lampu Hijau Pemprov DIJ Ambil Program PSEL dari Pemerintah Pusat

Karena itu, instansi tersebut bersama DPRD masih membahas target PAD sektor wisata untuk 2026.

Dalam rapat terakhir dengan Komisi B, muncul dua usulan angka. DPRD mengusulkan target sebesar Rp 40 miliar, sementara Dispar mengajukan Rp 35 miliar.

“Pertimbangan kami mengusulkan Rp 35 miliar karena hingga September realisasi PAD baru mencapai Rp 20 miliar. Secara realistis kami harus berhitung dengan kondisi di lapangan,” sambungnya.

 Baca Juga: Begini Klarifikasi Satpol PP DIY Soal Penggusuran PKL di Timur JEC yang Meminta Kejelasan Nasib usai Dua Tahun Digusur tanpa Kepastian

Sementara itu, Ketua Pokdarwis Midodaren Pantai Drini Suprihatin tak menampik kawasan pantai memang paling terdampak cuaca ekstrem.

Pantai Drini biasanya penuh saat akhir pekan, namun menjelang akhir tahun ini musim hujan menjadi tantangan karena wisata pantai berada di alam terbuka. Meski begitu, kawasan pantai tetap memiliki daya tarik tersendiri.

“Kalau hujan dan angin kencang, otomatis pengunjung berkurang. Tidak sampai sepi total, tetap ada wisatawan yang datang. Hanya saja intensitasnya menurun dibanding musim kemarau,” imbuhnya. (bas/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#kendala #pendapatan asli daerah #Larangan Study Tour #PAD #Gunungkidul #Cuaca Ekstrem #sektor wisata