Curah hujan yang tidak menentu membuat sebagian benih padi dan jagung yang telah ditebar mengalami gagal tumbuh.
Para petani kini menunggu datangnya musim hujan yang lebih pasti agar tidak mengalami kerugian lebih besar.
Petani asal Kalurahan Tanjungsari Kapanewon Tanjungsari Gunungkidul Sumarni, menjadi salah satu yang merasakan dampak ketidakpastian cuaca tersebut.
Ia mengaku sempat menyiapkan lahan dan menebar benih padi setelah hujan turun di awal Oktober. Namun, setelah itu hujan tak lagi mengguyur wilayahnya selama beberapa hari.
“Awal bulan kan sudah ada hujan. Jadi kami mulai menyiapkan lahan, menyangkul, dan menebar benih padi. Tapi setelah itu hujan tidak turun lagi sampai hampir seminggu. Akibatnya benih yang sudah mulai berkecambah malah mati,” tutur Sumarni saat ditemui di warung di area dekat lahanya pada Senin, (20/10/2025).
Menurut Sumarni, benih padi mulai berkecambah sehari atau dua hari setelah terkena air hujan.
Namun jika dalam tiga hingga tujuh hari berikutnya tidak ada hujan tambahan, tunas muda akan mati karena kekeringan.
Kondisi ini membuat petani di wilayahnya harus mengulang proses tanam dari awal. Sekarang ini, Sumari memilih menunda musim tanam sampai musim hujan benar-benar tiba.
“Kami di sini kan mengandalkan air tadah hujan. Kalau tidak ada hujan ya otomatis tidak ada air untuk lahan,” tambahnya.
Kondisi serupa juga dialami petani jagung di wilayah lain.
Petani asal Kalurahan Pacarejo, Kapanewon Semanu Budi Santoso mengaku, sampai pertengahan Oktober ia masih menahan diri untuk menebar benih.
Ia menilai, curah hujan saat ini belum cukup stabil untuk mendukung pertumbuhan tanaman jagung.
“Sekarang masih pemupukan dan persiapan lahan saja. Kami belum berani menebar benih karena hujannya belum turun terus-menerus. Banyak petani yang sudah menebar, tapi benihnya mati karena tidak ada hujan lanjutan. Jadi lebih baik menunggu,” ungkapnya.
Terpisah, Kepala BPBD Gunungkidul Purwono menanggapi kondisi cuaca yang saat ini masih berada dalam masa pancaroba dengan intensitas hujan yang belum merata.
Ia mengimbau agar para petani untuk menunda kegiatan menanam hingga musim hujan benar-benar tiba.
Purwono menjelaskan, musim pancaroba ditandai dengan kondisi cuaca yang ekstrim dan tidak menentu.
“Pagi hingga siang terasa panas, sore bisa turun hujan, bahkan kadang malam panas tapi paginya hujan. Siklus hujannya pun belum stabil, bisa sehari hujan lalu berhenti beberapa hari, kemudian turun hujan lebat lagi,” paparnya.
Dengan situasi seperti itu, ia mengingatkan para petani untuk lebih mencermati curah hujan sebelum memulai aktivitas menanam.
Menurutnya, saat ini hujan masih bersifat sporadis dan belum merata di seluruh wilayah Gunungkidul.
Purwono menambahkan, pihaknya memahami bahwa sebagian petani sudah mulai menanam berdasarkan panduan penyuluh pertanian.
Namun, ia menegaskan pentingnya menunggu datangnya musim hujan yang stabil untuk menghindari kerugian.
“Kalau kami melihat dari kacamata BPBD, alangkah baiknya petani tidak terburu-buru menebar benih. Karena kalau benih sudah tumbuh dan kemudian beberapa hari tidak turun hujan disertai panas menyengat, tanaman bisa gagal tumbuh,” ujarnya.
Purwono mengatakan, tanda-tanda musim hujan sudah tiba, menurut dia, biasanya ditandai dengan hujan yang turun berturut-turut selama tujuh hari dan merata di berbagai wilayah.
Ia juga mengingatkan bahwa sistem pertanian di beberapa wilayah Gunungkidul menggunakan sistem tadah hujan, sehingga waktu tanam yang tepat sangat bergantung pada kondisi cuaca.
“Kalau tidak ada hujan, otomatis tidak ada air yang mengalir di lahan. Jadi lebih baik bersabar sedikit sampai musim hujan benar-benar datang,” tutup Purwono. (bas)
Editor : Bahana.